Jurnalis Uddin: Dokter, Akademisi, dan Pejuang Kemanusiaan

Menjelang usia 88 tahun pada 10 Juli 2025, Jurnalis Uddin belum terpikir untuk berhenti bekerja. Dia dokter yang terlibat menggagas pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran Yarsi atau Yayasan Rumah Sakit Islam di Jakarta yang kini berkembang menjadi Universitas Yarsi. Jurnalis masih aktif mengurusi perkembangan Universitas Yarsi dan mengembangkan pendidikan kedokteran Islam di Indonesia dan dunia.

Jurnalis juga dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri Federation of Islamic Medical Associations (FIMA), yang digagas para profesional medis senior dunia yang awalnya rutin bertemu di Amerika Serikat. Sebelumnya, Jurnalis rutin ikut pertemuan Asosiasi Medis Islam di AS.

Pada 1981, sebanyak 10 organisasi medis Islam di dunia, termasuk Indonesia, mendirikan FIMA di Florida, AS. Nama Jurnalis tercatat sebagai salah satu pendiri FIMA.

Rasanya menyedihkan. Karena itu, mereka harus dibantu.

Jurnalis rutin mengikuti berbagai pertemuan FIMA dan juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan di sejumlah negara. Para dokter Muslim dan organisasi medis Muslim yang tergabung di FIMA memberikan pengobatan untuk masyarakat miskin serta terjun ke daerah perang untuk menyelamatkan korban.

Jurnalis senang dengan perkembangan FIMA yang tetap aktif menjadi wadah berbagi pengetahuan bagi dokter Muslim di seluruh dunia dalam bidang pendidikan, etika kedokteran, bantuan kemanusiaan, dan medis. Contohnya di Pakistan, FIMA menggelar operasi katarak untuk masyarakat miskin.

Di daerah perang di Darfur, Sudan, para dokter melakukan operasi di tempat terbuka dengan peralatan terbatas. Para dokter tersebut juga melayani kesehatan pengungsi dari etnis Rohingya asal Myanmar di Bangladesh yang jumlahnya lebih dari satu juta orang.

Saya minta perempuan supaya bisa mudah untuk keluar.

”Saya menyaksikan para dokter yang melakukan aksi kemanusiaan untuk orang-orang yang tidak berdaya karena kemiskinan, perang, dan pengungsi. Rasanya menyedihkan. Karena itu, mereka harus dibantu,” kata Jurnalis.

Jurnalis sebagai Ketua Pembina Yayasan Yarsi ambil bagian untuk melakukan aksi kemanusiaan. Dia memutuskan untuk memberikan beasiswa kuliah kedokteran bagi anak muda dari Palestina agar bermanfaat bagi negara mereka.

”Kalau mau membantu logistik pangan ke Gaza, kan diblokade Israel. Kami pun terpikir untuk memberikan beasiswa kuliah untuk anak muda di Gaza, Palestina. Saya minta perempuan supaya bisa mudah untuk keluar. Sudah ada satu mahasiswa kedokteran yang kuliah sejak tahun lalu. Masih ada lagi yang disiapkan di Gaza, mulai dengan memberikan kursus bahasa Indonesia,” ujar Jurnalis.

Apa yang bisa saya buat atau bantu, saya senang melakukan. Tidak ingat kalau sudah lansia.

Tetap berkarya

Pada usia lanjut dengan kondisi kesehatan yang masih prima, Jurnalis masih rutin hadir di berbagai acara di Universitas Yarsi, dari acara diskusi, wisuda, mengkaji pengembangan kampus ini di era digital, hingga mengkritisi kebijakan pemerintah tentang pendirian fakultas kedokteran yang makin masif. Jurnalis, yang menjalankan pola hidup sehat yang ketat sejak umur 60 tahun dan aktif berenang, masih lincah beraktivitas tanpa alat bantu.

Dia pun masih rutin bepergian ke berbagai acara di luar Jakarta ataupun di luar negeri. Pada 13 Juni, Jurnalis terbang ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk menghadiri Musyawarah Nasional XXI Asosiasi Fakultas Kedokteran Swasta Indonesia di Universitas Muslim Indonesia.

Jurnalis pun masih sering pulang ke kampung halamannya di Sumatera Barat. Di kampung kelahirannya, dia banyak membantu masyarakat setempat. Ketika ada sebuah SMP yang tidak berpagar, dibangunkannya pagar supaya siswa bisa tertib. Termasuk juga membangunkan masjid yang dilengkapi dengan teknologi digital.

”Apa yang bisa saya buat atau bantu, saya senang melakukan. Tidak ingat kalau sudah lansia,” ujar Jurnalis seraya tersenyum.

Perjalanan hidup Jurnalis kaya warna, merasakan hidup dalam zaman penjajahan Belanda, Jepang, dan gejolak Indonesia di awal kemerdekaan hingga saat ini. Di tengah keterbatasan ekonomi, Jurnalis nekat merantau ke Pulau Jawa untuk kuliah seusai lulus SMA di Padang.

Saya terpikir membuat diktat dan ternyata laris manis.

Ia pun menuju Yogyakarta dan mendaftar di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1956. Untuk mendapatkan uang, Jurnalis membuat catatan kuliah yang kemudian dijualnya kepada rekan-rekan yang membutuhkan.

”Saya datang subuh dan duduk paling depan supaya suara dosen kedengaran jelas. Saya terpikir membuat diktat dan ternyata laris manis. Beruntung ada beasiswa dari pemerintah sehingga saya bisa bayar kos dan beli baju baru,” katanya.

Perjalanan hidup Jurnalis sebagai dokter yang menjadi dosen sebenarnya tidak sengaja. Karena nilainya bagus, dia pernah menjadi asisten dosen anatomi di FK UGM. Ketika hendak mengabdi sebagai dokter di daerah, Menteri Kesehatan (1959-1966) Satrio yang temannya saat kuliah meminta Jurnalis untuk menjadi dosen di Universitas Indonesia (UI). Dia pun memulai sebagai dosen PNS di FK UI tahun 1965.

Kiprah Jurnalis mendirikan pendidikan kedokteran Yarsi pun tanpa sengaja. Dia yang juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Ibnu Chaldun Jakarta merasa terpanggil untuk menyelamatkan 100 mahasiswa yang terkatung-katung nasibnya. Dia memanfaatkan fasilitas ruang belajar dan laboratorium di FK UI supaya para mahasiswa tidak terputus kuliahnya.

Peluang itu membuat pikiran Jurnalis terbuka untuk mendirikan pendidikan kedokteran berbasis iman Islam yang berkualitas untuk mendukung pengembangan RS Islam di Jakarta. ”Awalnya niat saya dibilang tidak mungkin karena tidak ada duit. Saya tetap semangat karena waktu itu merasa kasihan melihat anak-anak yang telantar. Saya pun nekat memakai ruang kuliah di UI untuk bisa mengajar,” kata Jurnalis.

Jurnalis dengan seniornya, almarhum Ali Akbar, dan beberapa rekan lain berhasil mendapatkan izin pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran Yarsi tahun 1967. Namun, hingga 1970 masih memakai fasilitas ruang kuliah dan laboratorium UI sehingga sering dianggap ekstensi FK UI. Mahasiswanya juga ada anak pejabat seperti menteri.

Jurnalis dan rekan-rekannya serius mencari lahan untuk keberlanjutan pendidikan kedokteran Yarsi. Di tahun 1968 peletakan batu pertama di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dilakukan Ibu Tien Soeharto (istri Presiden Soeharto).

”Niat baik bersambut. Dari menyisihkan gaji hingga akhirnya dipercaya bank yang memberikan pinjaman, pembangunan Yarsi bertahap hingga sampai saat ini,” kata Jurnalis.

Pendidikan kedokteran di Universitas Yarsi dilengkapi dengan rumah sakit pendidikan, yakni RS Islam Yarsi dan RS Gigi dan Mulut Yarsi. Layanan kesehatannya menerapkan standar pelayanan syariah yang siap melayani umat dengan ramah dan profesional sehingga warga negara Indonesia tidak perlu ke luar negeri untuk mendapatkan pelayanan medis terbaik.

Dari awalnya pendidikan kedokteran, di tahun 1989 ditambah lagi program studi baru seperti hukum dan ekonomi sehingga berkembang menjadi Univeristas Yarsi. Namun, pendidikan kedokteran di Universitas Yarsi terus dikembangkan, bertambah dengan program dokter spesialis, didukung dengan laboratorium modern agar penelitian kedokteran berkembang.

Jurnalis menyadari masalah mutu menjadi tantangan. Karena itu, Jurnalis meminta agar rektor dan dosen memastikan lulusan kedokteran memenuhi standar yang dibuktikan dengan tingkat kelulusan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter yang tinggi setiap tahun.

”Kami ingin menunjukkan lulusan kedokteran dari perguruan tinggi swasta sama bagusnya dengan yang di PTN. Ini butuh dilakukan dengan membuat lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga mereka bisa lulus berkualitas,” kata Jurnalis.

Jurnalis yang setia mengawal pendidikan kedokteran mengingatkan agar pemerintah tidak serta-merta mudah memberikan izin pendirian FK dengan alasan kekurangan dokter. Padahal, langkah tersebut belum tentu memecahkan masalah. Pendidikan kedokteran harus dipastikan memenuhi standar mutu tinggi untuk menghasilkan dokter berkualitas dan tak kalah penting: beretika.

Jurnalis Uddin

Tempat tanggal lahir: Sulit Air, Sumatera Barat, 1937

Pendidikan:

  • Universitas/Institut Dokter di FK Universitas Gadjah Mada (1965)
  • Ahli anatomi FK Universitas Indonesia (1975)

Pengalaman:

  • Ketua Pembina Yayasan Yarsi
  • Ketua Dewan Penyantun Aliansi Penyelenggara Perguruan Tinggi Indonesia (Apperti)
  • Ketua Majelis Pertimbangan Kesehatan dan Syarak (MPKS) Kementerian Kesehatan
  • Guru Besar Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi
  • Penasihat, Indonesia Islamic Medical Association (IIMA)
  • Penasihat, Federation of Islamic Medical Associations (FIMA)