Lima kesuksesan Tuberkulosis di China

Kita tahu bahwa tuberkulosis (TB) merupakan salah satu program prioritas di Asta Cita. Untuk suksesnya program ini, maka ada baiknya antara lain kita lihat lima keberhasilan China dalam penanggulangan TB ini.

Pertama, tahun 2025 China tercatat sebagai pertama kalinya sebagai negara dengan “Lower-Moderate TB Incidence”. Jumlah kasus baru (insiden) TB di China turun 6,1% dari tahun sebelumnya dan menjadi 696.000 kasus di 2024. Angka “incidence rate” tuberkulosis China juga turun 5,8% di 2024 dibanding tahun 2023, dan angka di 2024 adalah 49 per 100.000 penduduk. Pencapaian ini lalu membuat turunnya peringkat China sebagai penyumbang kasus TB terbanyak di dunia, dari peringkat ke tiga menjadi ke empat.

Ke dua, China sebenarnya sudah sejak lama menjadi peringkat ke dua penyumbang kasus TB terbesar di dunia, dimana ketika itu peringkat pertama adalah India dan ke tiga adalah Indonesia. Tetapi ternyata sejak 2023 China menjadi peringkat ke tiga dan kita lah yang jadi peringkat ke duanya. Bahkan di WHO Global TB Report 2025 maka China menduduki peringkat ke empat. Jadi, peringkat China turun dari negara penyumbang TB terbesar ke dua di dunia menjadi ke empat, sementara kita peringkat kita Indonesia malah naik dari ke tiga menjadi negara kedua penyumbang TB terbesar di dunia.

Ke tiga, data “WHO Global Tuberculosis Report 2025” itu menunjukkan bahwa China mencatat 6.5% dari seluruh pasien TB dunia, sementara negara kita menyumbang 10% dan Filipina 6.8% dari kasus TB dunia.

Ke empat, China memang berhasil menjaga tingginya keberhasilan pengobatannya (“Treatment Success Rate”) selalu di atas 90% untuk kasus TB sensitif obat (“drug-susceptible TB”) selama bertahun-tahun. Sementara itu, angka keberhasilan pengobatan untuk kasus TB resisten berbagai obat atau resisten rifampisin (“multidrug/rifampicin-resistant TB – MDR/RR-TB”) dilaporkan 67.38%. Sebagai perbandingan saja, angka keberhasilan pengobatan di negara kita sampai 15 Oktober 2025 adalah 81% TB sensitif obat dan 59% untuk TB resisten obat.

Ke lima, data juga menunjukkan bahwa China berhasil menurunkan angka insiden (kasus baru) dan juga kematian sebanyak 30% sejak tahun 2012. Untuk kota Beijing misalnya, bahkan penurunan per tahun adalah 4.5% dalam dekade terakhir ini. Kini pemerintah China bahkan terus meningkatkan programnya, antara lain dengan meningkatkan pemberian terapi pencegahan untuk tuberkulosis laten, untuk mencapai target mereka menurunkan “incidence rate TB” sampai di bawah 30 per 100000 penduduk di tahun 2030. Sebagai perbandingan saja, Perpres 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis kita menyebutkan target “incidence rate TB” Indonesia adalah 65 per 100000 penduduk di tahun 2030

 

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025