JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Seminar Nasional dan Pelantikan Komisariat Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) wilayah Jakarta digelar di Universitas Yarsi dengan mengusung tema “Menuju Indonesia Pusat Ekonomi Syariah Dunia; Strategi Mendobrak Pertumbuhan Signifikan di Industri Halal dan Keuangan Syariah Indonesia”.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Tasyakur Milad ke-59 Universitas Yarsi sekaligus momentum pelantikan 13 komisariat IAEI dari berbagai kampus di Jakarta dan sekitarnya.
Ketua Pelaksana seminar, Median Wilestari mengatakan Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat ekonomi syariah dunia karena merupakan salah satu negara dengan populasi muslim terbesar.
Namun, menurutnya, potensi tersebut belum sepenuhnya menjadi kekuatan ekonomi yang nyata.
“Pasar halal dunia diperkirakan mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS, tetapi kontribusi Indonesia masih belum proporsional dengan besarnya potensi yang dimiliki,” kata Median dalam sambutannya pada Rabu, 20 Mei 2026.
Ia menjelaskan pangsa aset keuangan syariah nasional masih berada di bawah 10 persen dan ekosistem ekonomi halal nasional masih terfragmentasi serta belum terintegrasi secara vertikal.
Selain itu, tingkat literasi ekonomi dan keuangan syariah dinilai masih perlu ditingkatkan secara masif.
Karena itu, seminar tersebut digagas untuk mendorong lahirnya strategi konkret dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
“Kata kunci dalam tema seminar ini adalah mendobrak. Artinya keluar dari kebiasaan lama, berani membuat terobosan kebijakan, inovasi produk, dan kolaborasi lintas sektor,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Median juga menegaskan pelantikan 13 komisariat IAEI bukan sekadar seremonial, melainkan penguatan jaringan akademik ekonomi syariah.
Ia berharap setiap komisariat mampu menggerakkan mahasiswa, dosen, dan sivitas akademika untuk menjadi agen perubahan dalam pengembangan ekonomi syariah Indonesia.
Adapun komisariat yang dilantik berasal dari sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Yarsi, Universitas Al-Azhar Indonesia, Universitas Muhammadiyah Tangerang, Universitas Pamulang, hingga Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.
Sementara itu, Rektor Universitas Yarsi, Fasli Jalal, menilai ekonomi syariah kini berkembang semakin matang berkat kolaborasi akademisi, birokrasi, pelaku usaha, dan organisasi keagamaan.
Ia mengungkapkan sejak 2007 dirinya telah mengikuti perkembangan ekonomi syariah, termasuk saat muncul perdebatan mengenai keberadaan program studi ekonomi syariah di perguruan tinggi umum.
“Sekarang ekonomi syariah berkembang semakin kuat karena dukungan regulasi, SDM, dan kolaborasi yang semakin luas,” ujar Prof. Fasli.
Menurut Prof. Fasli, ekonomi syariah bukan hanya relevan bagi negara-negara muslim, tetapi juga menjadi kebutuhan global karena mengedepankan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
“Ekonomi Islam tidak hanya bicara pertumbuhan, tetapi juga pemerataan, empati, inklusivitas, dan keadilan sosial,” tuturnya.
Ia berharap ekonomi syariah dapat menjadi jalan mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin melalui sistem ekonomi yang berkeadilan.
Ketua Pengurus Yayasan Yarsi, Jurnalis Uddin, turut menceritakan perjalanan dukungan Yarsi terhadap perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia.
Ia mengaku Yarsi termasuk pihak yang mendukung awal berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada 1991 dan terus mendukung pengembangan layanan berbasis syariah, termasuk rumah sakit syariah.
Menurutnya, Rumah Sakit Yarsi menjadi salah satu rumah sakit syariah pertama di Jakarta dengan layanan yang mengedepankan prinsip-prinsip syariah dalam pelayanan kesehatan.
Meski demikian, ia menilai pemanfaatan layanan syariah oleh masyarakat muslim masih perlu ditingkatkan.
“Kadang umat sendiri belum sepenuhnya memanfaatkan layanan berbasis syariah, padahal kualitas dan pelayanannya sangat baik,” ungkap Prof. Jurnalis.
Ia optimistis ekonomi dan industri syariah Indonesia akan terus berkembang seiring meningkatnya pemahaman masyarakat serta dukungan dunia pendidikan dan organisasi ekonomi Islam.
Sumber:
Lihat

