Pakar Ungkap Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia masih menghadapi tantangan klasik, yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap ekonomi Islam. Terlebih lagi, ekonomi konvensional yang cenderung ribawi telah mengakar di negeri ini.

Hal itu disampaikan pakar ekonomi syariah dari Universitas YARSI Jakarta, Prof Nurul Huda. Menurut dia, ekonomi syariah harus masuk pelan-pelan ke dalam area akar ekonomi konvensional.

“Jadi kalau bahasa saya, itu kita gerus akarnya supaya ekonomi Islam juga masuk ke dalam area itu,” kata Prof Nurul usai mengisi seminar nasional dan pelantikan komisariat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Jakarta pada Rabu (20/5/2026).

Wakil Rektor Universitas YARSI itu mengingatkan, tujuan utama dari seluruh aktivitas ekonomi Islam adalah kesejahteraan dan kebahagiaan di dunia, serta keselamatan di akhirat. Itu diistilahkan sebagai kemenangan atau al-falah.

Konsep tersebut memiliki dua dimensi yang tidak dimiliki ekonomi konvensional: ukhrawi dan duniawi. Jadi, papar Prof Nurul, al-falah inilah yang menjadi titik perbedaan mendasar antara ekonomi Islam dan ekonomi konvensional.

Deputi Direktur Pembiayaan Syariah pada Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI Syahruddin Ramlan menambahkan, tantangan ekonomi syariah di Indonesia adalah masih rendahnya kesadaran masyarakat Muslim terhadap ekonomi Islam.

“Memang kesadaran kita terhadap perekonomian syariah itu masih rendah, sementara kita sudah terbiasa dengan perekonomian konvensional,” ujar Syahruddin.

Ia menjelaskan, sekarang masyarakat Indonesia dihadapkan pada dua pilihan, yakni ekonomi konvensional yang telah lama mereka kenal dan ekonomi syariah.

Akan tetapi, Syahruddin mengungkapkan, yang jadi masalah adalah perekonomian konvensional sudah berkembang begitu lama.

“Kita (ekonomi syariah) yang baru datang ini datang belakangan,” ujar Syahruddin.

Mengenai pelantikan Komisariat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Universitas YARSI, Syahruddin menyampaikan bahwa telah banyak yang dilakukan IAEI, seperti sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Jadi tentu kami dari sisi pemerintah kami perlu partner yang bisa menjangkau masyarakat dalam jangkau yang lebih luas, jadi ini semacam perpanjangan tangan pemerintah dalam konteks itu memberikan edukasi tentang pentingnya ekonomi syariah,” ujarnya.

Ia mengingatkan, Indonesia mayoritas penduduknya adalah Muslim. Tentu mereka juga ingin melaksanakan ekonomi syariah, artinya perekonomian yang mereka jalankan sejalan dengan keyakinan mereka sebagai seorang Muslim.

Sumber:

Lihat