Ebola Kegawatan Internasonal

tjandra yoga aditama
Sejak kemarin dan hari ini media massa nasional dan internasional ramai memberitakan Ebola yang pada 17 Mei kemarin dinyatakan WHO sebagai “public health emergency of international concern (PHEIC)”. Istilah ini ketika saya menjadi Direktur Jenderal P2PL Kementerian Kesehatan saya terjemahkan sebagai “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD”. Setidaknya ada tiga alasan kenapa WHO menyatakan Ebola sebagai PHEIC kali ini.
Pertama, ini memang kejadian “extraordinary”, atau luar biasa. Sampai 16 Mei 2026 ada 8 kasus konfirm Ebola, 246 suspek di Republik Demokratik Kongo, dan tragisnya ada 80 “suspected deaths”. Juga ada kluster penyakit dengan gejala yang sesuai dengan Ebola karena virus Bundibugyo “Bundibugyo virus disease (BVD)” pada beberapa daerah, yang bahkan juga ada dugaan kematian pada kluster 4 petugas kesehatan. Juga ditemukan tingginya angka kepositifan (8 terkonfirmasi dari 13 yang diperiksa) dan terus berdatangan laporan kasus dan kematian menunjukkan bahwa wabah kali ini berpotensi lebih besar dari data yang resmi terlaporkan
Ke dua, sudah ada penularan di luar Kongo, yaitu di Uganda, dengan 2 kasus terkonfirmasi dan salah satunya meninggal dunia. Jadi sudah ada penularan antar negara, makanya disebut “internasional”. Ke tiga, karena pola penularannya maka memang perlu kerjasama dan koordinasi internasional, dalam hal  surveilans, pencegahan dan respon.
Ke tiga alasan di atas lah yang membuat WHO menyatakan Ebola sebagai “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia”. Berikut disampaikan tiga hal lain. Ke satu, ada tiga jenis Ebola yang utama, yaitu Ebola virus karena virus Zaire, Sudan virus dan Bundibugyo virus yang sekarang terjadi. Sejauh ini untuk Ebola karena Bundibugyo virus memang belum ada obat dan vaksin yang di setujui WHO. Ke dua, angka kematian akibat Ebola berkisar antara 25% – 90%, jati tinggi sekali. Ke tiga, sejauh ini kasus Ebola utamanya ada Afrika dan pernah dilaporkan kasus di Eropa dan Amerika, dan belum pernah dilaporkan di Asia.
—-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025