Masuk fakultas kedokteran (FK) bukan keinginan orang tua, melainkan keinginan sendiri. Merasa ilmu diperoleh dari pendidikan sebelumnya belum cukup bekal bekerja maksimal sebagai tenaga kesehatan. Karena itu, terjun memperdalam ilmu kedokteran agar dapat memahami manusia secara lebih menyeluruh, sisi preventif, kuratif dan rehabilitatif.
Motivasi masuk kedokteran juga sangat berkaitan dengan ketertarikannya pada bidang rehabilitasi dan okupasi. Ingin riset berhubungan langsung dengan aktivitas sehari-hari manusia agar kualitas hidup pasien lebih sehat dapat meningkat.
Kesehatan bukan hanya menyembuhkan penyakit. “ Tapi juga membantu seseorang kembali menjalani hidup dengan layak dan bermakna,” tutur Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi,Maulida Nabilah (Maulida) saat cerita perjalanan kuliah di FK untuk website Yarsi, minggu lalu di Jakarta.
Menurut Maulida, tidak ada pelajaran benar-benar mudah di FK. Semua membutuhkan konsistensi belajar, pengorbanan waktu, serta kemampuan mengatur diri dengan baik. Banyaknya materi harus dipelajari membuat mahasiswa kedokteran harus memiliki disiplin dan daya tahan mental kuat.
Mengatasi kesulitan belajar, ia mencoba membuat jadwal belajar rutin, berdiskusi bersama teman, membaca ulang materi secara bertahap, dan menjaga kesehatan fisik maupun mental agar tetap fokus menjalani perkuliahan.
Salah satu pengalaman paling berkesan selama belajar di FK, kuliah kedokteran bukan hanya tentang teori dan hafalan. Dunia kedokteran mengajarkan untuk memahami manusia secara utuh, bekerja sama dengan orang lain, serta tetap memiliki empati di tengah tekanan akademik berat.
Namun perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Salah satu hal paling melelahkan,tekanan akademik sangat padat dalam waktu singkat, sehingga waktu istirahat menjadi berkurang. “Meski demikian, pengalaman tersebut justru membuat belajar lebih disiplin, manajemen waktu, dan pentingnya dukungan sosial antar teman,” cakap Maulida pandai menari.
Selanjutnya Maulida mengungkapkan, sebelum kuliah di FK Yarsi, pernah belajar di Universitas Indonesia (UI) lulus tahun 2022 dan aktif sebagai panitia Study Exchange UI – Chulalongkorn University Thailand. “Pengalaman organisasi dan kerja sama internasional itu memberi kesempatan belajar komunikasi, kerja tim, dan pertukaran budaya akademik,”kata mahasiswi gemar membaca.
Sebelumnya lagi punya pengalaman paling berkesan saat sekolah, mengikuti Misi Budaya di Harare, Zimbabwe pada 24–26 Mei 2016 dan kegiatannya jadi berita dimuat travel.kompas.com. “Pengalaman itu membuka pandangannya terhadap keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat dunia.” Katanya.
Kini dokter dimata Maulida menghadapi tantangan makin kompleks. Tidak hanya ikut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga harus punya empati, kemampuan komunikasi, dan kepedulian sosial .
Dokter berkualitas bukan hanya dokter yang pintar secara akademik, tapi mampu memperlakukan pasien secara manusiawi tanpa membedakan latar belakang ekonomi maupun sosial.”Jika saya jadi dokter ingin berkualitas,” janjinya.
Insya Allah tahun 2029 jadi dokter, lalu ingin mengikuti berbagai sertifikasi seperti ACLS dan ATLS untuk meningkatkan kemampuan klinis. Selain itu, ingin ikut kegiatan volunteer ke daerah terpencil agar dapat bantu masyarakat.
Di luar dunia akademik , Maulida juga memiliki impian sederhana, melakukan perjalanan backpacker ke Banda Neira, sebuah tempat sudah lama jadi wishlist pribadinya.Kemudian bergabung dengan Médecins Sans Frontières (MSF) atau Dokter Tanpa Batas, sebuah organisasi kemanusiaan medis independen memberikan pertolongan darurat bagi korban konflik, epidemi, bencana alam, dan masyarakat yang tidak memiliki akses layanan kesehatan.
Bagi insan mahasiswa kedokteran dan junior, Maulida berpesan agar tidak membandingkan proses belajar diri sendiri dengan orang lain. Setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan ritme belajar berbeda.
Jaga kesehatan fisik dan mental, bangun hubungan baik dengan teman, serta tidak malu mencari bantuan ketika merasa kesulitan.
Perjalanan menjadi dokter memang panjang dan penuh tantangan. Namun bagi Maulida, semua proses tersebut adalah bagian dari perjalanan jadi manusia lebih bermanfaat. ”Saya ingin jadi dokter agar kualitas hidup masyarakat sehat dan meningkat,insya Allah tahun 2029 saya jadi dokter “ tutup Maulida (mahasiswi kedokteran, Maulida Nabilah)


