Dari Puskesmas ke Panggung Dunia: Menjadi Dokter yang Menyembuhkan Bumi

Dicky

Setiap kali saya berdiri di depan mahasiswa kedokteran atau kesehatan masyarakat yang baru saja diwisuda, saya selalu teringat pada diri saya sendiri lebih dari dua dekade lalu: seorang dokter muda lulusan Universitas Padjadjaran yang mengawali kariernya bukan di rumah sakit besar berpendingin ruangan, melainkan sebagai Kepala Puskesmas. Saat itu saya tidak membayangkan bahwa jalan yang saya tempuh akan membawa saya berdiri di forum-forum kesehatan global, terlibat dalam penanganan wabah lintas benua, hingga menjadi bagian dari misi kemanusiaan di wilayah konflik. Yang saya tahu waktu itu hanya satu hal sederhana: bahwa kesehatan seseorang tidak pernah berdiri sendiri dari kesehatan lingkungan, masyarakat, dan sistem di sekitarnya.

Kepada Anda, para wisudawan YARSI 2026, saya ingin membagikan sebuah keyakinan yang saya pegang sepanjang perjalanan karier saya: menjadi dokter hari ini, dan terlebih di masa depan, bukan lagi sekadar menjadi klinisi yang menangani pasien satu per satu di ruang periksa. Dunia sedang berubah, dan profesi kita dituntut berubah bersamanya.

Dunia Kesehatan yang Semakin Kompleks

Kita hidup di era ketika ancaman kesehatan tidak lagi mengenal batas negara. Pandemi COVID-19 mengajarkan kita bahwa virus yang bermula dari satu pasar hewan di satu kota dapat melumpuhkan seluruh sistem kesehatan global dalam hitungan bulan. Namun COVID-19 hanyalah satu babak dari rangkaian panjang ancaman yang telah dan akan terus kita hadapi: flu babi (H1N1) yang pernah saya tangani langsung di lapangan, HIV/AIDS yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di banyak wilayah, resistensi antimikroba yang diam-diam mengancam efektivitas pengobatan modern, hingga penyakit-penyakit zoonosis baru yang muncul akibat kerusakan ekosistem dan perubahan tata guna lahan.

Di sisi lain, krisis iklim kini bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan telah menjelma menjadi krisis kesehatan. Gelombang panas ekstrem, pergeseran pola penyebaran vektor penyakit seperti demam berdarah dan malaria, krisis pangan akibat perubahan iklim, hingga polusi udara yang setiap tahun merenggut jutaan nyawa—semua ini adalah medan tempur baru bagi tenaga kesehatan. Belum lagi konflik bersenjata yang saya saksikan sendiri dampaknya terhadap fasilitas dan tenaga kesehatan, sebagaimana yang terjadi di Gaza, Palestina, tempat rumah sakit yang seharusnya menjadi ruang netral perlindungan kemanusiaan justru menjadi sasaran kehancuran.

Menghadapi kompleksitas ini, pendekatan kesehatan yang parsial dan sektoral sudah tidak lagi memadai. Kita membutuhkan cara pandang baru, yang dalam bahasa keilmuan global disebut One Health dan Planetary Health.

One Health dan Planetary Health: Bukan Sekadar Jargon

One Health mengajarkan kita bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang saling terhubung erat. Lebih dari 70 persen penyakit infeksi baru yang muncul pada manusia berasal dari hewan. Artinya, seorang epidemiolog yang baik tidak boleh hanya memahami tubuh manusia, tetapi juga harus memahami ekosistem peternakan, perdagangan satwa liar, sektor agromaritim, hingga kebijakan lingkungan.

Planetary Health membawa cara pandang ini selangkah lebih jauh: kesehatan manusia pada akhirnya bergantung sepenuhnya pada kesehatan sistem alam Bumi itu sendiri. Ketika kita membicarakan deforestasi, pencemaran laut, atau krisis air bersih, sesungguhnya kita sedang membicarakan kesehatan generasi mendatang.

Inilah mengapa saya percaya bahwa lulusan kedokteran dan kesehatan masyarakat hari ini perlu memiliki keberanian untuk keluar dari kotak profesi yang sempit. Anda boleh menjadi klinisi yang hebat di ruang praktik, namun jangan pernah berhenti di situ saja. Dunia membutuhkan dokter yang juga menjadi peneliti wabah, yang mampu membaca data epidemiologi dan menerjemahkannya menjadi kebijakan. Dunia membutuhkan dokter yang menjadi diplomat kesehatan, yang mampu duduk di meja perundingan internasional dan memperjuangkan kepentingan kesehatan bangsanya. Dan dunia membutuhkan dokter yang berani terjun ke garis depan kemanusiaan, di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau sekalipun.

Jejak yang Saya Tempuh

Saya tidak menceritakan pengalaman saya untuk memamerkan pencapaian, melainkan untuk menunjukkan bahwa jalan ini dapat ditempuh oleh siapa saja yang mau memulai dari bawah dan terus belajar tanpa henti.

Perjalanan saya dimulai dari pelayanan primer di Puskesmas, tempat saya belajar bahwa kesehatan masyarakat dimulai dari hal-hal paling mendasar: air bersih, sanitasi, gizi, dan akses layanan. Dari sana saya melanjutkan pendidikan kesehatan masyarakat dan lingkungan di Griffith University, Australia, hingga akhirnya menyelesaikan studi doktoral di bidang keamanan kesehatan global (global health security), kepemimpinan, dan komunikasi risiko—sebuah kombinasi keilmuan yang mengajarkan saya bahwa mengendalikan wabah tidak cukup hanya dengan ilmu kedokteran, tetapi juga membutuhkan kemampuan memimpin dan berkomunikasi di tengah krisis.

Selama lebih dari dua dekade, saya berkesempatan terlibat dalam berbagai misi kemanusiaan dan kesehatan lintas negara: menjadi bagian dari tim teknis pembangunan rumah sakit di Gaza, Palestina, yang menjadi simbol solidaritas Indonesia terhadap saudara-saudara kita di Palestina; terlibat dalam pembangunan rumah sakit mata pasca-tragedi bom Bali sebagai bentuk pemulihan layanan kesehatan pasca-bencana; berkontribusi dalam pengembangan layanan kesehatan haji di Mekah bagi jamaah Indonesia; serta menjadi bagian dari upaya penyelamatan warga negara Indonesia dalam insiden kapal Mavi Marmara. Di ranah pengendalian wabah, saya turut serta menangani respons flu babi, HIV/AIDS, dan tentu saja COVID-19—pengalaman yang kemudian membawa saya menjadi salah satu epidemiolog Indonesia yang dipercaya memberikan analisis dan masukan kepada pemerintah, lembaga internasional seperti WHO dan UNICEF, serta media global.

Saya membagikan jejak ini bukan untuk menunjukkan seberapa jauh saya telah melangkah, melainkan untuk menegaskan satu hal: semua ini bermula dari keputusan sederhana untuk tidak puas hanya menjadi dokter di ruang praktik, dan keberanian untuk terus belajar—bukan hanya di dalam negeri, tetapi hingga ke mancanegara.

Pesan untuk Wisudawan YARSI

Kepada Anda yang hari ini mengenakan toga dan bersiap melangkah ke dunia profesional, saya ingin mengingatkan bahwa gelar yang Anda terima bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal. Dunia kesehatan masa depan membutuhkan dokter dan tenaga kesehatan yang berpikir lintas batas: lintas disiplin ilmu, lintas sektor, dan lintas negara. Ia membutuhkan Anda yang berani menjadi peneliti sekaligus praktisi, menjadi pemimpin sekaligus pelayan masyarakat, menjadi warga Indonesia sekaligus warga dunia yang peduli pada kesehatan planet ini secara utuh.

Jangan pernah membatasi diri Anda pada apa yang tampak di depan mata hari ini. Puskesmas kecil tempat Anda mungkin akan mengabdi pertama kali bisa menjadi titik awal perjalanan yang jauh lebih besar, sebagaimana yang saya alami sendiri.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan dua pesan yang selalu saya pegang sepanjang perjalanan profesional saya, dan saya titipkan kepada Anda semua:

“Ilmu kedokteran yang sejati tidak berhenti pada menyembuhkan satu pasien, tetapi terus tumbuh hingga mampu menyembuhkan masyarakat, bangsa, bahkan Bumi tempat kita semua bernaung.”

“Jangan pernah takut memulai dari tempat yang kecil, sebab dunia sering kali dibentuk oleh mereka yang berani belajar terus-menerus—dari klinik sederhana hingga meja perundingan dunia.”

Selamat menempuh perjalanan baru, para dokter dan tenaga kesehatan masa depan Indonesia. Bumi ini menunggu kontribusi Anda.

——
dr. Dicky Budiman, MScPH, PhD