JAKARTA, investor.id – Universitas Yarsi memperkuat riset dan pendanaan untuk penelitian di bidang kedokteran. Sejalan dengan rencana itu, Yayasan Yarsi yang menaungi universitas dan rumah sakit juga akan membangun empat rumah sakit pendidikan sebagai upaya menambah jumlah dokter spesialis di Indonesia.
“Penelitian merupakan bagian penting dari Caturdharma Universitas YARSI. Karena itu, penguatan riset dan pendanaan penelitian menjadi salah satu agenda besar dalam pengembangan universitas. Di usia yang telah mencapai 59 tahun, Universitas YARSI terus melakukan investasi dalam pengembangan ekosistem penelitian,” kata Rektor Universitas YARSI, Prof Dr dr Ratna Sitompul, SpM(K), Subsp.I.I. di sela wisuda sarjana dan pascasarjana Universitas Yarsi di Jakarta, Sabtu (24/10/2026).
Prof Ratna mengungkapkan, universitas telah memiliki Lembaga Penelitian (Lemlit) dengan berbagai kelompok riset serta didukung sarana dan prasarana laboratorium yang terus dikembangkan. Seperti laboratorium genomik, herbal, halal, telomer, sel punca dan artificial intelligence (AI) center.
“Khusus untuk penelitian bidang kedokteran, Universitas YARSI dalam dua tahun terakhir telah melakukan penambahan peralatan laboratorium dengan nilai investasi sekitar Rp10 miliar atau Rp5 miliar per tahun,” ungkap Prof Ratna.
Selain itu, lanjut Prof Ratna, dosen-dosen didorong melakukan riset dan didorong melanjutkan pendidikan. Kini sudah banyak dosen silih berganti belajar meneruskan jenjang program doktor dalam dan luar negeri. “Tentu di Universitas YARSI para dosen pasti melakukan penelitian dan Yayasan YARSI membantu publikasinya,” ujar Prof Ratna.
Lebih jauh, Ibu Rektor menegaskan perhatian YARSI terhadap penelitian merupakan bagian dari pelaksanaan Caturdharma, sekaligus bentuk komitmen untuk mengikuti perkembangan dunia dan memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi.
Menurut Alumnus Doktor Universitas Indonesia ini, dalam melakukan penelitian YARSI setiap tahun menyediakan 6 miliar dana riset dan pengurusan administrasinya tidak ribet. “Akreditasi Unggul telah diraih dan tekad YARSI jadi pendekar penelitian Insya Allah terwujud,” tutur Prof Ratna.
Selain penelitian bidang kedokteran, Universitas YARSI mempunya laboratorium Halal Research Center (HRC) dengan peralatan canggih. Ini membedakan dengan kampus lain.
Laboratorium ini sering dikunjungi dan jadi primadona. Setiap tamu telah berkunjung, semuanya kagum dan takjub terhadap keberadaan HRC. Tamu itu berasal dari dalam dan luar negeri, seperti dari badan usaha milik negara, pemerintah dan swasta, perorangan atau group, termasuk perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS).
“Para tamu mengatakan bahwa Universitas YARSI memiliki laboratorium HRC yang luar biasa dan futuristic,” kata Prof. Ratna.
Yang istimewa lagi di Universitas YARSI peserta didik diberikan ruhul Islam setiap semester dan terintegrasi, sehingga melahirkan sarjana intelektual yang kokoh taqwanya kepada Allah Swt. dan bermanfaat bagi banyak orang. “Akhirnya, insya Allah program studi terakreditasi unggul terus bertambah, internasional pun demikian, tentunya akan menjadi kampus berdampak. Alhamdulillah,” ujar Prof Ratna.
Penelitian Genomik dan Stem Cell
Prof Ratna mengatakan, Universitas Yarsi melakukan penelitian di berbagai bidang. Salah satu yang saat ini cukup berkembang adalah pusat penelitian stem cell atau sel punca. Pusat penelitian stem cell ini tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga pada pelayanan.
“Persyaratannya sangat ketat. Insyaallah, mungkin pada akhir Januari nanti, kita sudah bisa melangkah ke tahap berikutnya,” kata Prof Ratna.
“Pengembangan pusat stem cell ini membutuhkan investasi yang cukup besar. Selain itu, kita juga mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan, termasuk penelitian genomic. Penelitian genomik memiliki banyak peran dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk memahami berbagai penyakit,” kata dia.
Sebagai contoh, papar Prof Ratna, genomic untuk penyakit diabetes. Diabetes memiliki dua tipe utama, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 berkaitan dengan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sel beta pankreas, yaitu sel yang memproduksi insulin.
Padahal, sistem kekebalan tubuh seharusnya berfungsi melindungi tubuh dari berbagai ancaman. Dalam kondisi autoimun, sistem tersebut justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Akibatnya, produksi insulin menjadi sangat berkurang atau berhenti, sehingga pasien diabetes tipe 1 memerlukan terapi insulin jangka panjang.
“Melalui penelitian genomik, kita dapat mempelajari faktor genetik yang berperan dalam terjadinya penyakit tersebut,” ujar dia.
Penelitian serupa juga dapat dilakukan pada kanker. Misalnya, ketika seorang ibu menderita kanker, anaknya mungkin bertanya apakah dirinya juga berisiko mengalami penyakit yang sama.
“Melalui penelitian genomik, kita dapat mempelajari faktor genetik yang berkaitan dengan risiko kanker. Namun, adanya riwayat kanker dalam keluarga tidak berarti bahwa keturunannya pasti akan mengalami penyakit yang sama. Risiko tersebut bergantung pada jenis kanker, faktor genetik, dan faktor lainnya,” tegas dia.
Ketua pembina Yayasan Yarsi, Prof dr Jurnalis Uddin,PAK memaparkan, penelitian genomik ini terus berkembang.
“Salah satu hal yang terutama kita butuhkan adalah peralatan canggih yang disebut next-generation sequencing (NGS). Dengan teknologi ini, kita dapat melakukan pengurutan genom manusia untuk mempelajari susunan DNA dan mengidentifikasi variasi genetik yang mungkin berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti diabetes, kanker, dan penyakit-penyakit langka,” kata Prof Jurnalis.
Bayangkan, kata Prof Jurnalis, tubuh manusia memiliki sangat banyak sel, sementara genom manusia tersusun atas sekitar tiga miliar pasangan basa DNA. Susunan DNA ini dapat diibaratkan seperti bahasa yang memiliki urutan dan pola tertentu. “Melalui penelitian, kita berusaha mengidentifikasi bagian-bagian yang memiliki variasi atau perubahan,” ujar dia.
Prof Jurnalis menjelaskan, dalam DNA terdapat empat basa utama, yaitu adenin (A), timin (T), guanin (G), dan sitosin (C). Perbedaan pada satu basa DNA dapat disebut single-nucleotide variant (SNV). Setiap orang memiliki variasi genetik yang berbeda. Sebagian besar DNA manusia memiliki kesamaan, sedangkan sebagian kecil menunjukkan variasi antarmanusia.
“Variasi inilah yang menjadi salah satu objek penelitian genomik untuk memahami karakteristik individu dan kaitannya dengan risiko penyakit. Selain variasi pada satu basa, terdapat pula variasi genetik lainnya, termasuk perubahan jumlah salinan atau bagian DNA tertentu. Untuk mempelajarinya, kita membutuhkan teknologi yang memadai dan tenaga ahli yang memahami analisis genom,” jelas Prof Jurnalis.
Penelitian genomic, kata Prof Jurnalis, juga berkaitan erat dengan pengembangan personalized medicine atau kedokteran yang dipersonalisasi.
Saat ini, ketika seseorang berobat, dokter akan memberikan obat berdasarkan diagnosis dan kondisi pasien. Namun, respons setiap orang terhadap obat yang sama bisa berbeda. Ada yang cocok dengan obat tersebut, ada pula yang membutuhkan penyesuaian dosis atau jenis obat.
“Ke depannya, kita berharap pengobatan dapat semakin disesuaikan dengan karakteristik masing-masing individu, termasuk faktor genetik, kondisi kesehatan, dan respons terhadap obat. Dengan demikian, pemilihan obat dan penentuan dosis dapat dilakukan secara lebih tepat untuk setiap pasien. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pengobatan sekaligus mengurangi risiko efek samping,” kata Prof Jurnalis.
YARSI, lanjut Prof Jurnalis, juga bekerja sama dengan para peneliti yang memiliki keahlian khusus di bidang genomik. Kolaborasi ini penting karena penelitian genom membutuhkan kompetensi khusus, baik dalam pengumpulan dan pengolahan data maupun dalam interpretasi hasilnya.
Dukungan Pendanaan dan Insentif bagi Peneliti
Alhamdulillahnya, kata Prof Jurnalis, para peneliti di sini juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan penelitian melalui berbagai sumber pendanaan, termasuk dukungan dari Australia dan sumber pendanaan penelitian lainnya.
“Kita berupaya agar penelitian yang dilakukan memiliki fokus yang jelas, termasuk penelitian genomik yang berkaitan dengan berbagai penyakit dan kebutuhan kesehatan di Indonesia. Selain dukungan pendanaan penelitian, kita juga berusaha memberikan insentif kepada peneliti, termasuk peneliti muda yang memiliki potensi dan fokus keahlian di bidangnya,” papar Prof Jurnalis.
Dalam skema yang sedang dikembangkan, peneliti berpeluang memperoleh insentif yang nilainya dapat mencapai sekitar US$3.500, sesuai ketentuan program yang berlaku.
Di YARSI, terdapat pula rencana dukungan dari donor yang berasal dari Amerika Serikat. Dukungan seperti ini penting karena penelitian tidak mungkin berkembang tanpa pembiayaan yang memadai.
Selain itu, tersedia skema anggaran penelitian yang memberikan ruang bagi peneliti untuk mengembangkan proyeknya. Dalam skema tertentu, peneliti juga dapat memperoleh honorarium sesuai dengan ketentuan anggaran dan proyek yang disetujui.
Dengan demikian, setiap kali memperoleh proyek penelitian, peneliti memiliki dukungan untuk menjalankan penelitian sekaligus mendapatkan kompensasi sesuai aturan yang berlaku.
“Kita memang ingin sangat mendukung kegiatan penelitian. Harapannya, dengan dukungan fasilitas, pendanaan, kolaborasi, dan insentif yang memadai, semakin banyak penelitian berkualitas yang dapat dikembangkan di YARSI,” harap prof Jurnalis
Rencana Pengembangan Rumah Sakit Pendidikan
Rencananya, Yayasan Yarsi juga memiliki rencana untuk mengembangkan empat rumah sakit pendidikan di wilayah Jakarta, yaitu Jakarta Selatan, Barat, Timur, dan Utara.
“Saat ini, kita baru memiliki rumah sakit sendiri di Jakarta Pusat. Sebelumnya, kita sudah menjalin kerja sama dengan sejumlah rumah sakit pendidikan dan rumah sakit mitra lainnya, termasuk di wilayah Pelabuhan, Garut, dan Cilegon,” ungkap Prof Ratna.
Ke depannya, setelah memiliki rumah sakit sendiri, Yarsi berencana mengembangkan fasilitas tambahan. “Kita akan melanjutkan pengembangan di Jakarta karena saat ini rumah sakit kita baru berada di Jakarta Pusat. Ada rencana untuk mengembangkan fasilitas di Jakarta Barat, meskipun investasi yang dibutuhkan cukup besar. Insyaallah, kita akan terus mengupayakan pengembangan tersebut,” ungkap Prof Ratna.
Sejak awal 2026, Universitas Yarsi telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Pembinaannya dilakukan oleh FKUI. “Kita bekerja sama dengan rumah sakit mitra, termasuk RSKNI dan rumah sakit di kawasan Pasar Blok M. Namun, pembina utamanya adalah FKUI. Jadi, apabila ada bidang yang dosen atau tenaga pengajarnya masih terbatas dan membutuhkan pembinaan dari fakultas lain, misalnya bidang psikosomatik, kita bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan menjalani kegiatan bersama para residen FKUI,” jelas Prof Ratna.
Program pendidikan dokter spesialis penyakit dalam dipilih berdasarkan pertimbangan jumlah tenaga pengajar yang memadai. Untuk menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis atau program Sp-1, jelas Prof Ratna, tenaga pendidiknya harus memenuhi persyaratan kualifikasi tertentu, termasuk memiliki kompetensi spesialis yang lebih tinggi sesuai ketentuan pendidikan.
“Kita sudah memiliki lima dosen spesialis yang diperlukan untuk mendukung program ini. Tidak semua fakultas kedokteran memiliki kesiapan tenaga pengajar seperti itu,” kata Prof Ratna
Ke depan, Yarsi berencana membuka program spesialis lainnya. “ Kita sedang mempersiapkan program spesialis bedah dan spesialis anak. Persiapannya sudah sekitar 75 persen. Untuk saat ini, program penyakit dalam kita prioritaskan terlebih dahulu karena pemerintah menyediakan skema percepatan atau fast track untuk program tersebut. Setelah itu, kita akan melanjutkan persiapan program spesialis anak dan bedah secara bertahap,” tandas Prof Ratna.
Sumber:
Lihat

