Wisuda Mahasiswanya, Universitas Yarsi Siapkan Program Magang

JAKARTA – Universitas Yarsi mewisuda 325 lulusan pada Sabtu (24/10/2026), di Jakarta, sekaligus menyiapkan perubahan kurikulum sarjana untuk memperkuat kesiapan kerja mahasiswa. Rencana tersebut mencakup magang intensif selama satu tahun di industri untuk menjembatani kesenjangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan perusahaan.

Ketua Pembina Yayasan Universitas Yarsi, Prof. Jurnalis Uddin, menjelaskan bahwa wisuda rutin berlangsung dua kali setahun, yakni pada April dan Oktober. Dari total lulusan periode Oktober 2026, sebanyak 258 orang meraih gelar sarjana, 66 orang menyelesaikan program magister, dan satu orang menyelesaikan program doktor.

Jurnalis mengatakan periode Oktober biasanya menghasilkan jumlah lulusan lebih besar karena mahasiswa umumnya menyelesaikan pendidikan pada September. Ia juga menyoroti pencapaian akademik lulusan, termasuk mahasiswa psikologi yang mengenakan selempang sebagai penanda prestasi.

Menurut Jurnalis, perguruan tinggi perlu mempersiapkan lulusan agar tidak hanya mampu memperoleh pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang kerja secara mandiri. Ia menilai perubahan pola karier generasi muda menuntut pendidikan yang lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Kami berharap anak-anak ini bisa segera bekerja dan, jika tidak bisa, menciptakan pekerjaan. Anak-anak sekarang tidak selalu bekerja di kantor,” ujar Jurnalis.

Ia mengakui bahwa ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan masih menjadi tantangan. Menurutnya, ijazah sarjana tidak lagi menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan dengan lebih cepat maupun memperoleh pekerjaan yang lebih baik.

Jurnalis menilai ketidaksesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri menjadi salah satu persoalan yang perlu ditangani melalui perubahan pendidikan tinggi. Karena itu, Universitas Yarsi berencana merombak kurikulum S1 di luar program studi Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

“Faktanya, kesenjangan antara lapangan kerja dan pencari kerja memang tinggi. Bahkan, ijazah S1 tidak menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan lebih cepat. Ini menjadi masalah kita. Solusinya adalah meningkatkan kesiapan lulusan untuk bekerja atau menciptakan pekerjaan,” ujar Jurnalis.

Dalam skema yang direncanakan, mahasiswa akan menjalani pendidikan di kampus selama dua tahun, kemudian mengikuti magang intensif selama satu tahun di perusahaan, sebelum kembali ke kampus pada tahun keempat. Model tersebut diharapkan memberikan pengalaman praktis yang membantu mahasiswa memahami lingkungan kerja sebelum lulus.

“Mahasiswa S1 akan belajar dua tahun di kampus, menjalani magang selama satu tahun seperti koas di perusahaan, lalu kembali ke kampus pada tahun keempat. Mereka diharapkan sudah memiliki pengalaman kerja, seperti mahasiswa kedokteran yang praktik di rumah sakit, sehingga lebih siap. Namun, perubahan ini mendasar dan membutuhkan penyusunan sistem baru,” jelas Jurnalis.

Rektor Universitas Yarsi, Prof. Ratna Sitompul, mengatakan penerapan program magang terstruktur ditargetkan dapat dimulai dalam waktu sekitar satu tahun. Kampus perlu menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kurikulum baru sebelum menentukan mitra industri dan mekanisme pelaksanaannya.

“Kerja sama magang itu akan kami kerjakan dalam waktu kurang lebih satu tahun lagi karena keinginan Prof. Jurnalis harus diterjemahkan menjadi kurikulum. Setelah kurikulum tersusun, kami akan mencari mitra-mitra,” tutur Ratna.

Sumber:

Lihat