Wisuda Yarsi ,Sandi Sampaikan 5 pesan dan Ratna Tegaskan Yarsi Jadi Pendekar Riset

Wisuda itu bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan  your starting line. Garis start para wisuda dan awal perjuangan. Ingat,lulusan perguruan tinggi (PT) tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga kepada masyarakat.

Indonesia butuh generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tapi juga mampu ciptakan lapangan kerja dan memberikan dampak positif bagi Masyarakat.

Dr.Sandiaga Salahuddin Uno,B.B.A.,M.B.A (Bang Sandi) mengingatkan itu saat orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Universitas YARSI Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Tidak itu saja, para wisuda Universitas Yarsi sebagai generasi muda Indonesia harus mampu menjawab tantangan zaman dengan kompetensi, karakter, dan kontribusi nyata. “Ilmu dari bangku kuliah perlu diwujudkan jadi solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.” tutur Bang sandi

Mengutip laporan World Economic Forum 2025, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif era Presiden Joko Widodo menyebut, sekitar 30 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah atau menjadi usang tahun 2030.

Kondisi itu, menuntut lulusan PT agar terus beradaptasi dan mengembangkan kemampuan melalui pembelajaran sepanjang hayat atau lifelong learning.

“Lifelong learning, belajar sepanjang hayat, jadi kunci daya saing kita,” tegasnya.

Bang Sandi yang juga jadi Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif era Presiden Joko Widodo diacara ini banyak menyampaikan wawasan dan pencerahan. Diantaranya menekankan para wisudawan harus memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat serta mampu menghasilkan solusi memberikan manfaat bagi banyak orang.

Kedua, menerapkan prinsip tiga si, yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Ketiga, memahami kesuksesan harus dilandasi karakter kuat, termasuk kejujuran, amanah, disiplin, dan tanggung jawab.Keempat, empathy must create impact, artinya empati harus mampu menghasilkan dampak nyata bagi manusia, lingkungan, dan kesejahteraan. Kelima, build legacy, not just career, yakni membangun warisan kebaikan, bukan sekadar mengejar karier. Prinsip ini perlu diwujudkan lewat empat as, yaitu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas.

Pada kesempatan sama Rektor Universitas Yarsi,Prof.Dr.Ratna Sitompul, Sp.M(K), Subsp.I.I. (Prof Ratna),menyatakan,Universitas Yarsi ingin menghasilkan insan-insan yang tidak hanya unggul di bidang pengetahuan, tetapi juga jujur dalam perkataan, amanah dalam pekerjaan, adil dalam keputusan, dan rendah hati dalam keberhasilan, serta berani membela kebenaran.

Terkait riset , Universitas Yarsi memperkuat riset dan pendanaan penelitian bidang kedokteran. Penelitian merupakan bagian penting dari Caturdharma Universitas Yarsi . Karena itu, penguatan riset dan pendanaan penelitian menjadi salah satu agenda besar dalam pengembangan universitas.

Prof Ratna  juga mengungkapkan, universitas telah memiliki Lembaga Penelitian (Lemlit) dengan berbagai kelompok riset serta didukung sarana dan prasarana laboratorium yang terus dikembangkan.  Seperti laboratorium genomik, herbal, halal, telomer, sel punca dan artificial intelligence (AI) center.

Khusus penelitian kedokteran, Universitas Yarsi  dalam dua tahun terakhir telah melakukan penambahan peralatan laboratorium dengan investasi Rp10 miliar atau Rp5 miliar per tahun,

Dosen-dosen juga didorong melakukan riset dan melanjutkan pendidikan. “Kini sudah banyak dosen silih berganti belajar meneruskan jenjang program doktor dalam dan luar negeri. “ cakapnya

Terhadap penelitian dilakukan para dosen ,Yayasan Yarsi  bantu publikasinya,” ujar Prof Ratna.

Lebih jauh, Ibu Rektor menegaskan perhatian Yarsi pada riset merupakan komitmen mengikuti perkembangan dunia dan memperkuat internasionalisasi PT

Menurut Alumnus Doktor Universitas Indonesia ini, untuk penelitian Yarsi setiap tahun menyediakan 6 miliar dana riset dan pengurusan administrasinya tidak ribet.

Selain penelitian bidang kedokteran, Yarsi mempunya laboratorium Halal Research Center (HRC) dengan peralatan canggih. Ini membedakan dengan kampus lain.

Laboratorium ini sering dikunjungi dan jadi primadona. Setiap tamu telah berkunjung, semuanya kagum dan takjub terhadap keberadaan HRC.

Tamu itu berasal dari dalam dan luar negeri, seperti dari badan usaha milik negara, pemerintah dan swasta, perorangan atau group, termasuk perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN dan PTS).

Para tamu mengatakan bahwa Universitas Yarsi punya laboratorium HRC yang luar biasa dan futuristic.” Insya Allah bertekad Yarsi jadi pendekar riset terwujud,” tegas Prof Ratna.

Ditambahkannya, sejak awal 2026, Universitas Yarsi telah membuka Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Pembinaannya dilakukan oleh FKUI. Jadi, apabila ada bidang yang dosen atau tenaga pengajarnya masih terbatas dan membutuhkan pembinaan dari fakultas lain, misalnya bidang psikosomatik, kita bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan menjalani kegiatan bersama para residen FKUI,” jelas Prof Ratna.

Program pendidikan dokter spesialis penyakit dalam dipilih berdasarkan pertimbangan jumlah tenaga pengajar yang memadai. Untuk menyelenggarakan pendidikan dokter spesialis atau program Sp-1, jelas Prof Ratna, tenaga pendidiknya harus memenuhi persyaratan kualifikasi tertentu, termasuk memiliki kompetensi spesialis yang lebih tinggi sesuai ketentuan pendidikan.

“Kami sudah punya lima dosen spesialis yang diperlukan mendukung program ini. Tidak semua fakultas kedokteran memiliki kesiapan tenaga pengajar seperti itu,” kata Prof Ratna

Kini program penyakit dalam diprioritaskan terlebih dahulu karena pemerintah menyediakan skema percepatan atau fast track untuk program tersebut. Setelah itu, kami akan melanjutkan persiapan program spesialis anak dan bedah secara bertahap,” terang Prof Ratna.

Ke depan, Yarsi berencana buka program spesialis lainnya. Seperti program spesialis bedah dan spesialis anak. “Persiapannya sudah sekitar 75 persen.”jelas Prof Ratna.

Kembali pada Wisuda Universitas Yarsi semester ganjil tahun akademik 2025–2026 kali ini Sebanyak 322 wisudawan mengikuti prosesi tersebut. Dari jumlah itu, 64 orang merupakan lulusan Sekolah Pascasarjana berasal dari Program Studi Doktor Biomedis, Magister Manajemen, Magister Kenotariatan, Magister Biomedis, dan Magister Administrasi Rumah Sakit.(Usman)