Lima Hal tentang Penyakit Pes 

The Moscow Times 2 Oktober 2026 menurunkan berita berjudul “Nearly 200 People Under Observation After Irkutsk Lab Worker Dies From Plague”. Berita kematian berhubungan dengan “plaque” yang kita kenal sebagai Pes ini kemudian banyak di tulis pula oleh berbagai media massa nasional. Memang bagaimana persisnya kejadiannya masih membutuhkan data dan informasi yang lebih jelas dan perlu konfirmasi resmi pula, tetapi baik kalau kita mengenal setidaknya lima aspek tentang penyakit pes ini. Pertama, penyakit pes dikenal sebagai penyebab “Black Death” (Wabah Hitam) yang terjadi pada abad ke-14 (1346–1353) dan menewaskan sekitar puluhan sampai ratusan juta orang di Eropa, Asia, serta Afrika. Jadi ini salah satu pengalaman buruk pandemi dunia. Bahkan, laman BRIN 12 April 2026 beberapa bulan yang lalu menuliskan bahwa kita pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20, terutama di Pulau Jawa.
Ke dua, laman WHO 29 September 2026 beberapa hari yang lalu menuliskan bahwa penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Ini adalah penyakit zoonotik, menular dari hewan ke manusia, yang kemudian mungkin saja dapat menular antar manusia dengan kontak langsung dengan bagian tubuh yang terinfeksi dan juga dapat lewat partikel yang terhirup waktu bernapas. Karena mudah menular maka jelah penyakit pes perlu perhatian khusus, dan ini pula sebabnya di Rusia kini dilakukan pengawasan ketat pada sekitar 200 orang yang kontak dengan kasus.
Ke tiga, kita kenal ada jenis pes yang bentuknya benjolan kelenjar getah bening, yang disebut  “Bubonic plague”. Juga ada yang menyebar melalui sirkulasi darah (septikemia). Lalu ada yang menyerang paru, menyebabkan radang paru (pneumonia) yang dikenal sebagai “pneumonic plague”. Kasus di Rusia diberitakan juga mengalami Pneumionia, hanya belum dijelaskan secara pasti bagaimana manifestasinya.
Ke empat, pes memang dapat saja menjadi berat dan bahkan menimbulkan kematian. Angka kematian “Bubonic plague” adalah antara 30% sampai 60%, sementara “pneumonic plague” amatlah ganas dan pasien akan meninggal kalau terlambat diobati.
Ke lima, laman BRIN 12 April 2026 menyebutkan bahwa meskipun dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti BRIN mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum membuktikan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes. Disebutkan adanya fenomena “silent period”, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali. Peneliti BRIN menyampaikan bahwa temuan bahwa bakteri penyebab pes, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.
Kita perlu pantau dengan ketat tentang apa ya g terjadi di Rusia ini, dan kita juga harus terus berhati-hati tentang kemungkinan pes di negara kita.
————
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan, serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara