Coba perhatikan kehidupan kita beberapa tahun terakhir. Rasanya semakin mudah menemukan perdebatan. Ada yang bermula dari urusan politik, pilihan pendidikan anak, metode pengobatan, persoalan agama, bahkan hal-hal sederhana yang sebenarnya tidak terlalu penting. Media sosial membuat semuanya semakin dekat. Satu komentar dibalas komentar lain, lalu berkembang menjadi adu argumen yang tidak ada ujungnya.
Yang menarik, sering kali perdebatan itu tidak benar-benar selesai ketika percakapannya berakhir. Kita masih mengingatnya saat perjalanan pulang. Masih memikirkannya sebelum tidur. Bahkan terkadang masih terlintas keesokan harinya. “Seharusnya tadi saya jawab begini.” Atau, “Mengapa dia tidak bisa memahami maksud saya?” Tanpa disadari, sebuah perdebatan dapat menyita lebih banyak energi daripada yang kita bayangkan.
Di tengah fenomena seperti ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan sebuah nasihat yang menarik untuk direnungkan. Beliau menjamin rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun dirinya berada di pihak yang benar. Jika dipikir-pikir, mengapa ganjarannya begitu besar? Bukankah mempertahankan kebenaran adalah sesuatu yang baik?
Barangkali karena dalam banyak keadaan, yang sedang dipertahankan bukan lagi kebenaran, melainkan ego. Dan ketika ego mulai mengambil alih, manfaat perdebatan perlahan menghilang.
Menguntungkan Kehidupan Akhirat
Mari jujur kepada diri sendiri. Salah satu hal yang membuat perdebatan sulit dihentikan adalah keinginan untuk diakui. Ketika merasa benar, kita ingin orang lain mengakui bahwa kita benar. Ketika argumen kita kuat, kita ingin lawan bicara menerimanya. Di titik itulah perdebatan sering berubah menjadi persoalan harga diri.
Padahal tidak semua orang akan menerima penjelasan kita. Tidak semua orang akan berubah pikiran setelah mendengar argumen yang paling logis sekalipun. Semakin lama sebuah perdebatan berlangsung, sering kali semakin sedikit manfaat yang tersisa.
Karena itu, meninggalkan perdebatan yang tidak lagi produktif sesungguhnya merupakan bentuk pengendalian diri. Kita memilih berhenti bukan karena tidak mampu melanjutkan, melainkan karena menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar memenangkan argumen.
Di sinilah letak keindahan ajaran Islam. Ketika seseorang menahan keinginan untuk terus berdebat demi mengharap ridha Allah jalla wa ‘ala, ia sedang menukar kepuasan sesaat dengan keuntungan yang jauh lebih besar. Apa yang terlihat seperti kekalahan di hadapan manusia bisa jadi merupakan kemenangan yang bernilai di sisi Allah jalla wa ‘ala.
Namun manfaatnya ternyata tidak berhenti pada urusan akhirat. Banyak orang justru merasakan dampaknya langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Kesehatan dan Energi Hidup
Tubuh manusia tidak terlalu peduli apakah ancaman yang datang berupa bahaya fisik atau perdebatan yang penuh emosi. Ketika seseorang merasa tertekan, marah, atau tersinggung, tubuh akan merespons dengan cara yang hampir sama. Detak jantung meningkat, otot menegang, dan berbagai hormon stres mulai bekerja.
Masalahnya, perdebatan sering tidak berhenti di kepala kita. Percakapan yang sudah selesai terus diputar ulang. Kita mengulang argumen yang sama berkali-kali. Kita membayangkan jawaban yang seharusnya disampaikan. Kita memikirkan hal yang mungkin tidak akan pernah terjadi.
Akibatnya, energi mental terkuras. Konsentrasi menjadi berkurang. Pekerjaan terasa lebih berat. Pikiran mudah lelah. Bahkan kualitas tidur pun dapat terganggu.
Bukankah kita pernah menjumpai orang yang sepanjang hari terlihat murung hanya karena sebuah perdebatan? Atau mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Satu percakapan yang berlangsung beberapa menit ternyata mampu merusak suasana hati selama berjam-jam.
Karena itu, kemampuan melepaskan sebuah perdebatan sering kali bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya. Itu adalah kemampuan untuk menjaga energi agar tidak habis pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat yang sebanding. Dan ketika energi itu berhasil kita jaga, orang-orang terdekat biasanya menjadi pihak pertama yang merasakan manfaatnya.
Menjaga Kehangatan Keluarga
Ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian kita. Perdebatan mungkin terjadi di luar rumah, tetapi dampaknya sering masuk ke dalam rumah.
Seseorang yang pulang dengan hati kesal biasanya tidak langsung kembali tenang. Nada bicaranya berubah. Kesabarannya berkurang. Hal-hal kecil yang biasanya dapat ditoleransi mendadak terasa mengganggu. Padahal pasangan dan anak-anak tidak ikut terlibat dalam perdebatan tersebut.
Rumah seharusnya menjadi tempat kita memulihkan tenaga setelah menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Namun ketika emosi dari luar terus terbawa pulang, suasana hangat yang seharusnya tercipta di rumah perlahan dapat berkurang.
Tidak sedikit ketegangan dalam keluarga yang sebenarnya bukan berasal dari persoalan keluarga itu sendiri. Akar masalahnya justru berasal dari beban pikiran, kemarahan, atau konflik yang dibawa dari luar rumah.
Karena itu, saat seseorang memilih berhenti berdebat, manfaatnya bukan hanya untuk dirinya. Pasangan merasakan suasana yang lebih nyaman. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang lebih tenang. Rumah kembali menjadi tempat beristirahat, bukan tempat melanjutkan konflik.
Pada akhirnya, tidak semua perdebatan layak untuk diteruskan. Ada perdebatan yang memang perlu diselesaikan. Namun ada pula yang semakin panjang justru semakin jauh dari manfaat.
Mungkin inilah salah satu hikmah dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika seseorang mampu meninggalkan perdebatan yang tidak lagi bermanfaat, ia tidak hanya sedang mengejar rumah di pinggir surga. Ia juga sedang menjaga kesehatan dirinya, menghemat energinya, dan melindungi ketenangan keluarganya.
Terkadang, keputusan paling bijak bukanlah memenangkan perdebatan. Terkadang, keputusan paling bijak adalah mengakhirinya.
——
Dr. dr. Bayu Saputera, MM, CHCA, CHCM
Ketua – Himpunan Residen Dokter Keluarga YARSI (HIDRASI)
Sekretaris Bidang Ilmiah – IDI Cabang Tanah Bumbu
Penelaah Teknis Kebijakan – RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor


