Berita viral Empati Dokter

Informasi komentar terhadap pasien yang tidak dapat ruang rawat jadi viral. Sambil menunggu konfirmasi bagaimana kejadian sebenarnya maka disampaikan empat hal yang bersifat umum. Pertama dan utama, turut berduka cita mendalam pada pasien yang meninggal, semoga mendapat tempat mulia disisi Tuhan YME.
Ke dua, seorang dokter tentu harus memberi empati pada pasien, bagaimanapun keadaannya karena pasien memang sedang sakit yang bukan hanya fisik tetapi juga mungkin ada tekanan pemikiran menghadapi situasi yang ada. Bukan hanya empati, dokter juga harus punya  “einfühlung”, ini adalah kata dari bahasa Jerman,  ein (ke dalam) dan fühlung (perasaan/perabarasaan), yang berarti “merasa ke dalam” (feeling into). Ini adalah pengertian lebih mendasar dari dari konsep empati. “Einfuhlung” menggambarkan kemampuan seseorang untuk menyelami, meresapi, atau ikut merasakan isi jiwa dan sudut pandang orang lain, dalam hal ini dokter perlu dan harus punya “einfuhlung” pada pasien. Jadi dokter bukan hanya memeriksa dan mengobati pasien, tetapi juga merabarasakan apa yang dialami dan dikeluhkan pasiennya dan memberikan empati sesuai keadaan yang dialami pasiennya.  Tentu memprihatinkan kalau ada dokter yang tidak berempati pada keadaan pasiennya, dan tidak “einfuhung” tentang apa yang dirasakan pasiennya. Harus diingat bahwa pasien bukan hanya mengeluhkan keadaan sakitnya tetapi juga berbagai keadaan yang terkait dengan keadaan sakitnya, dan ini harus dipahami dan diberi empati memadai.
Ke tiga, viralnya berita ini kembali menunjukkan bahwa seseorang -dan kita semua- harus amat bijak dalam ber media sosial. Ke empat, berita beredar yang menyebutkan pasien 8 jam belum mendapat ruang rawat juga perlu dapat perhatian khusus. Memang ada dua interpertasi disini, ke satu sudah mendapat penanganan kesehatan tapi belum mendapat ruang rawat dan ke dua barangkali belum mendapat penanganan memadai dan belum juga dapat ruang rawat. Hal ini tentu juga memprihatinkan dan menunjukkan tantangan pelayanan kesehatan yang masih dihadapi di lapangan. Perlu ada manajemen pelayanan kesehatan yang baik di negara kita agar jangan sampai ada pasien yang terlantar dalam pelayanan di Rumah Sakit.
—-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
Dokter sejak 1980, Guru Besar Kedokteran sejak 2008