Publikasi WHO Juni 2026 tentang Keamanan Pangan

Media massa memberitakan memberitakan laporan keracunan makanan di Semarang pada 31 Juli 2026 dan di Papua pada 5 Agustus 2026 kemarin. Dalam penanggulangannya maka baik kalau dilihat publikasi WHO tentang Keamanan Pangan, “Food Safety” yang baru saja dikeluarkan 4 Juni 2026. Publikasi ini menyebutkan bahwa, di dunia diperkirakan ada 866 juta orang -satu dari sembilan penduduk dunia- yang terdampak karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Disebutkan setidaknya ada lima kemungkinan penyebab keracunan makanan, sesuatu yang tentunya perlu jadi perhatian kalau ada kasus keracunan makanan di negara kita. Pertama adalah karena bakteri, antara lain Campylobacter, enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC), Shigella dan  Shiga toxin-producing E. coli (STEC), Listeria dan Vibrio cholerae. Ke dua adalah akibat virus, yang paling sering adalah Norovirus, dan juga ada ada kemungkinan peran virus Hepatitis A dan Hepatitis E. Ke tiga karena parasit, seperti Taenia solium, Opisthorchis viverrini, Clonorchis sinensis, toxoplasma dan Trypanosoma cruzi.
Ke empat adalah karena Prion, seperti Bovine spongiform encephalopathy (BSE) pada sapi yang berhubungan dengan varian Creutzfeldt-Jakob disease (vCJD) pada manusia. Ke lima adalah kontaminasi bahan kimia. Ini meliputi logam, seperti arsen, merkuri dan kadmium, berbagai jenis toksin seperti mycotoxins, marine biotoxins, dan cyanogenic glycosides, serta “Persistent organic pollutants (POPs)” seperti  dioxin dan polychlorinated biphenyls (PCBs).
Perlu diperhatikan bahwa publikasi WHO ini juga menyoroti hubungan antara perubahan cuaca (“climate change”) dengan keamanan pangan. Tantangan cuaca yang sedang kita hadapi sekarang ini jelas perlu jadi perhatian bagi pengelolaan makan bergizi di negara kita.
—-
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan DirJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan dan Kepala Balitbangkes Kementerian Kesehatan, serta Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara