Ada dua yang perhatian saat diterapkannya tranformasi perpustakaan sekolah. Pertama sarana dan prasarana (fisik) dan kedua sumber daya manusia (kepala sekolah, tenaga perpustakaan sekolah , guru dan murid.
Direktur KSPSTK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen),Dr.Iwan Junaedi,S.Si.,M.Pd (Doktor Iwan) menyatakan itu saat jadi pembicara Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI), Kamis 17 September 2026 di Universitas Yarsi Jakarta.
Acara yang digelar ATPUSI bekerjasama dengan program studi perpustakaan dan sains informasi universitas yarsi, doktor Iwan menjelaskan, transformasi fisik di sekolah berupa gudang buku dijadikan pusat pengetahuan Koleksi cetak dijadikan koleksi multimodal seperti buk, e-book, video, data, sumber digital.Perpustakaan sebagai unit layanan dijadikan sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran. Tempat meminjam buku di jadikan ruang belajar dan eksplorasi.
Lalu transformasi sumber daya manusia. Saat murid datang ke perpustakaan dijadikan murid aktif belajar di perpustakaan. Murid membaca buku diarahkan murid membangun pengetahuan. Murid konsumen informasi dijadikan murid produsen pengetahuan , murid hanya literasi baca tulis jadi murid multi literasi.
Doktor Iwan dalam konferensi ini membawakan tema transformasi perpustakaan sekolah. Selain materi diatas banyak pengetahuan yang disampaikan menarik dan mencerahkan.

Satu hal lagi disampaikan, permasalahan peningkatan kualitas tenaga perpustakaan sekolah. Menurut Doktor Iwan jika tenaga perpustakaan dari unsur guru , ini menjadi tugas tambahan bagi guru. Akhirnya lahir masalah tidak permanen sebagai tenaga perpustakaan.
Sedangkan tenaga perpustakaan bukan jalur fungsi pustakawan , masalahnya tidak punya background kompetensi perpustakaan.
Sementara Rektor Universitas Yarsi, Prof.Dr.dr, Ratna Sitompul,SpM(K).,SubSpI.I saat membuka konferensi mengatakan, menyambut baik acara penting ini, semoga tujuan direncanakan tercapai. Beberapa informasi disampaikan, diantaranya meminta Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah bisa mengembangkan jenjang karir bagi pustakawan.
Tidak itu saja. Perbanyaklah pelatihan agar anggotanya bertambah pengetahuan dan keterampilan lebih tinggi ( jago analisis dan pengumpulan data). Lalu harus selalu mengembangkan kompetensi . “ Ingat ,jika sudah berkumpul harus bisa memberikan manfaat bagi orang banyak,” tutup Ibu Rektor Yarsi.
Konferensi Perpustakaan Sekolah Indonesia ini banyak dihadiri para pustakawan , guru , mahasiswa dan anggota Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI).
Ketua Umum ATPUSI, Rahmawati , MP menyampaikan terima kasih kepada Universitas Yarsi menyediakan tempat berlangsungnya acara. Kepada anggota ATPUSI semoga perhelatan ini bermanfaat bagi peningkatan pengetahuan ,keterampilan dan eksistensi dibidang sekolah. “Selain itu meningkatkan kepercayaan diri sehingga jadi profesional (usman)


