Membahas ilmu politik kita tidak akan pernah tamat. Kadang menarik dan bertikai. Begitu pula jika membahas ilmu kimia, selalu seksi dan menawan. Bedanya ilmu kimia belum ada pertikaian dan mungkin tak akan pernah.
Dosen Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi, Dr.Sri Utami,S.Si.,S.H.M.Si (Doktor Utami) menyatakan ilmu kimia tidak lagi berdiri sendiri. Tapi berinteraksi dengan kedokteran, kedokteran gigi, biomedis, farmasi, teknologi digital, herbal medicine, hukum, dan HKI. Masa depan ilmu kimia dan kesehatan bersifat multidisipliner.
Selanjutnya, Ilmu kimia salah satu fondasi utama ilmu kesehatan, karena hampir seluruh proses kehidupan berlangsung melalui reaksi dan interaksi kimia. Tubuh manusia tersusun atas berbagai molekul, seperti air, protein, lipida, karbohidrat, asam nukleat, vitamin, mineral, hormon, dan neurotransmiter. Karena itu, pemahaman ilmu kimia menjadi dasar bagi perkembangan kedokteran, kedokteran gigi, ilmu biomedis, farmasi, herbal medicine, hingga teknologi kesehatan modern.
Menurut Doktor Utami, dalam ilmu kedokteran, ilmu kimia berperan memahami mekanisme penyakit.
Metabolisme tubuh, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan radiologi, gizi, serta pengembangan obat. Farmakologi, misalnya, mempelajari hubungan struktur kimia suatu senyawa dengan aktivitas biologisnya.
Penemuan obat baru dilakukan melalui proses panjang mulai dari sampling, studi in silico ekstraksi, fraksionasi, isolasi, identifikasi molekul aktif, sintesis kimia organik, uji praklinis dan uji klinis.
Teknologi modern hadir menggabungkan ilmu kimia dengan biologi molekuler, genetika, bioinformatika, dan kecerdasan buatan untuk menemukan kandidat obat secara lebih cepat.
Lebih jauh, saat dihubungkan dengan kedokteran gigi, ilmu kimia juga sangat penting. Bahan tambal gigi, semen gigi, resin komposit, bahan cetak, implan, bahan pemutih gigi, hingga material regenerasi jaringan dikembangkan berdasarkan prinsip ilmu kimia dan ilmu material.
Termasuk pemahaman mengenai derajat keasaman (pH), mineralisasi, hidroksiapatit, fluorida, polimer, adhesi, dan reaksi permukaan . Semuanya membantu dokter gigi memilih material yang aman, kuat, biokompatibel, dan tahan lama,” ujar Alumnus Doktor Universitas Indonesia .
Lebih dalam lagi jika dikaitkan ilmu biomedis, ilmu kimia menjadi jembatan antara ilmu dasar dan pelayanan kesehatan. Ilmu kimia berhubungan erat dengan biokimia yang merupakan salah satu cabang ilmu kimia, biologi sel, mikrobiologi, imunologi, biomaterial, nanoteknologi, diagnostik molekuler, dan rekayasa jaringan. Perkembangan nanopartikel, biosensor, terapi berbasis molekul, vaksin, serta teknologi penghantaran obat merupakan contoh semakin eratnya integrasi ilmu kimia dengan biomedis.
Begitu pula pada herbal medicine. Indonesia memiliki peluang besar dalam herbal medicine karena kekayaan biodiversitas dan pengetahuan tradisionalnya. Jamu dan tanaman obat dapat menjadi sumber senyawa bioaktif, tetapi penggunaannya perlu didukung penelitian ilmiah mengenai identitas bahan, kandungan kimia, dosis, keamanan, efektivitas, serta interaksi dengan obat lain.
Secara global, World Health Organization (WHO) melaporkan,106 negara anggota memberikan data dalam survei global terbaru mengenai traditional, complementary and integrative medicine (TCIM).
WHO kemudian mengadopsi Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034, dengan empat prioritas: memperkuat bukti ilmiah, menjamin keamanan dan regulasi, mengintegrasikan pengobatan tradisional yang aman ke sistem kesehatan, serta mengoptimalkan manfaat lintas sektor.
“Perkembangan herbal medicine juga menunjukkan besarnya potensi ekonomi dan ilmiah,” tutur Ibu Doktor yang juga bergelar Sarjana Hukum
Salah satu analisis dikutip dalam literatur global memperkirakan nilai pasar traditional medicine meningkat dari sekitar US$213,81 miliar pada 2025 menjadi US$359,37 miliar pada 2032, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7,7%.
Tantangannya adalah memastikan bahwa kekayaan hayati dan pengetahuan tradisional tidak hanya menjadi sumber bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk inovatif ,memberikan manfaat dan nilai tambah bagi Indonesia.
Di sinilah hukum, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan Paten menjadi sangat penting. Hasil penelitian di bidang kimia, obat baru, formulasi, proses produksi, alat diagnostik, biomaterial, dan teknologi kesehatan dapat memiliki nilai ekonomi tinggi.
“Paten memberikan hak eksklusif kepada inventor atas invensi di bidang teknologi selama jangka waktu tertentu,”ungkap Doktor Utami.
Di Indonesia, kerangka Paten saat ini antara lain diatur melalui UU No. 13 Tahun 2016 yang telah diubah terakhir dengan UU No. 65 Tahun 2024.
UU 65/2024 berlaku sejak 28 Oktober 2024 dan antara lain menyesuaikan sistem Paten dengan perkembangan teknologi, kebutuhan nasional, serta isu sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional.
Data Word Intellectual Property Organisation (WIPO) menunjukkan bahwa pada 2024 pemohon yang berdomisili di Indonesia mengajukan 2.518 permohonan paten, naik 46% dibanding periode sebelumnya; sebanyak 2.285 merupakan permohonan domestik. Indonesia juga mencatat 105 permohonan Patent Cooperation Treaty (PCT) internasional dan 604 national phase entries.
Data tersebut menunjukkan bahwa ekosistem inovasi Indonesia terus berkembang, meskipun masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan penelitian, komersialisasi, dan pelindungan Paten.
Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia, biodiversitas, serta pengetahuan tradisional. Tantangan ke depan adalah mengubah modal tersebut menjadi inovasi berbasis bukti, aman, terlindungi secara hukum, dan mampu bersaing secara global.
Jadi jelas, ilmu kimia punya banyak kaitan dari berbagai ilmu. Sekali lagi jika ilmu politik bisa digoreng ilmu kimia pun begitu. Ilmu kimia tidak hanya cantik di laboratorium dan riset, tapi bisa juga seksi untuk dibahas. (usman )


