Delapan hal TB & DM, di Tambora

Pada 23 April 2026 saya kembali ceramah tuberkulosis langsung di lapangan, kali ini di Puskesmas Tambora Jakarta Barat. Sebagaimana biasa maka para Ibu Kader yang hadir amat bersemangat, dan mengajukan berbagai pertanyaan yang salah satunya tentang tuberkulosis dan Diabetes Mellitus (DM) atau yang kita kenal dengan sakit gula.
Nah, menurut WHO maka risiko mendapat TB memang meningkat pada pasien DM. Sedikitnya ada delapan hal tentang TB dan DM ini. Pertama, prevalensi DM dunia diperkirakan akan meningkat 50% antara tahun 2019 ke 2045, bahkan angka median peningkatannya dapat sampai 99% pada negara dengan beban TB yang tinggi (“high burden of TB”). Ke dua, data 2023 menunjukkan bahwa sekitar 380.000 kasus baru TB di dunia ternyata dipicu oleh DM. Ke tiga, data ilmiah dalam bentuk  “systematic review” melaporkan bahwa di tahun 2019 ada 15.3% pasien TB yang juga ada DM, sementara angka DM pada masyarakat umum adalah 9,3%, jadi jelas lebih tinggi DMnya pada masyarakat yang TB. Ke empat, di dunia pada 2023 ada sekitar  1,65 juta pasien TB yang juga harus mendapat penanganan untuk sakit DM nya, jadi penanganan dua penyakit sekaligus yang juga saya bahas pada ceramah di Puskesmas Tambora pada Ibu-Ibu kader.
Ke lima, salah satu penelitian menyebutkan peningkatan risiko dapat TB adalah 1,9 kali pada pasien DM, artinya mereka yang ada DM risikonya untuk sakit TB hampir dua kali lipat lebih tinggi dari yang tidak DM. Kalau jenis DM nya lebih spesifik maka salah penelitian lain menemukan bahwa ada peningkatan risiko sampai 4,2 kali mendapat TB pada pasien DM tipe 1. Ke enam, data lain yang dikutip WHO juga menyebutkan bahwa keadaan DM yang lebih lama diidap dan juga kadar gula darah yang lebih tinggi akan punya risiko jauh lebih besar untuk mendapat TB.
Ke tujuh, adanya DM juga ternyata berhubungan dengan peningkatan risiko untuk terjadinya resistensi TB dalam bentuk “multidrug-resistant TB – MDR-TB”, artinya penanganan TB nya jadi lebih sulit, obat lebih lama dan angka kesembuhan lebih rendah. Ke delapan, pasien dengan TB dan DM  juga menunjukkan peningkatan risiko kekambuhan penyakit TB nya dan juga kematian akibat TB, dibanding pasien TB yang tidak menderita DM.
Saya selama ini bersyukur dapat mengikuti berbagai pertemuan internasional, tetapi saya selalu “menikmati” untuk dapat bertemu langsung dengan masyarakat di lapangan, seperti di Puskesmas Tambora kali ini, juga di Puskesmas Ciracas beberapa hari yang lalu, dan juga di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Planet Senen beberapa hari sebelumnya pula, serta rencananya di acara Puskesmas Cilandak minggu depan, semua dalam rangka Hari TB sedunia 2026.
Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Dewan Penasehat, Stop TB Partnership Indonesia (STPI)
Badan Pengawas, Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)