Tujuh Aspek Kesehatan Perempuan di Hari Kartini

Di hari Kartini 21 April ini mari kita lihat tujuh aspek kesehatan perempuan di dunia, sebagaimana yang disampaikan WHO. Walaupun ini memang data dunia dan buka data negara kita, tetapi tentu kita dapat mengambil pelajaran dari padanya. Pertama, data WHO per tanggal 7 April 2025 menunjukkan bahwa di dunia di tahun 2023 setiap hari ada lebih dari 700 perempuan meninggal berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran, yang seharusnya dapat dicegah. Ke dua, kematian maternal di dunia terjadi hampir setiap dua menit sekali.

Ke tiga, pada April 2024 WHO menyampaikan bahwa di tahun 2019 diperkirakan terjadi 21 juta kehamilan pada remaja perempuan berusia 15–19 tahun, utamanya terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah (“LMICs”). Sekitar 50% kehamilan ini sebenarnya tidak direncanakan. Tentu kalau Ibunya masih terlalu muda maka akan berhadapan dengan  berbagai masalah kesehatan dalam kehamilan, kelahiran dan bayinya. Ke, empat, WHO menyebutkan bahwa pemberian pelayanan oleh petugas kesehatan yang profesional, sejak kehamilan sampai  proses kelahiran- akan dapat menyelamatkan nyawa para Ibu dan bayinya. Jadi, peran petugas kesehatan di lapangan adalah sangat penting, tentunya juga di negara kita. Semoga para petugas kesehatan kita dapat terus memberi pelayanan kesehatan bagi rakyat kita, dan di sisi lain maka kehidupan, kesejahteraan dan keamanan kerja para petugas kesehatan dan keluarganya di lapangan juga harus jadi perhatian pemerintah pula

Ke lima. antara 2000 sampai 2023 maka ada penurunan angka rasio kematian maternal (“maternal mortality ratio – MMR”) sebesar 40%. Data dunia tahun 2023 menunjukkan bahwa angka kelahiran pada remaja berusia 10–14 tahun diperkirakan dapat sampai 1,5 per 1000 wanita. Ke enam, WHO pada Maret 2024 menyampaikan aspek kekerasan pada perempuan di dunia.. Publikasi WHO memperkirakan bahwa di dunia ada sekitar 1 dari 3 (30%) kaum perempuan di dunia yang dapat saja pernah menjadi subyek kekerasan fisik atau sexual selama hidupnya, sesuatu yang menyedihkan dan harus dihentikan.

Ke tujuh, harus disadari bahwa upaya peningkatan kesehatan kaum perempuan adalah kegiatan mendasar untuk mencapai pelayanan kesehatan universal (“universal health coverage”), kesetaraan kesehatan (“health equity”)  dan kesetaraan gender. Pelayanan kesehatan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh (“comprehensive”), dengan hak kesetaraan, mempertimbangkan aspek kehidupan perempuan,  mencakup kesehatan fisik dan mental perempuan sepanjang jalur kehidupannya, “across the entire life course”.

—-

Prof Tjandra Yoga Aditama
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI dan Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025