JAKARTA, jakarta.suaramerdeka.com – Universitas Yarsi menggelar tasyakuran dalam rangka memperingati Milad ke-59 pada 2026. Kegiatan ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang sekaligus capaian kampus dalam membangun pendidikan tinggi berbasis nilai-nilai Islam yang berdaya saing global.
Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya rasa syukur atas perkembangan pesat yang telah dicapai selama hampir enam dekade.
“Perjalanan ini tidak mudah. Ini adalah hasil perjuangan panjang para pendiri dan seluruh civitas akademika. Karena itu, rasa syukur harus terus kita pegang agar Yarsi dapat terus berkembang,” ujarnya di Kampus Yarsi Jakarta pada Rabu, 15 April 2026.
Baca Juga:
Kasus FH UI Jadi Sorotan, Kemendiktisaintek: Tak Ada Toleransi untuk Kekerasan di Kampus
Ia juga mengapresiasi kontribusi para tokoh penting, termasuk pendiri dan pembina yayasan, yang dinilai memiliki peran besar dalam menghadapi berbagai tantangan sejak awal berdiri hingga saat ini.
Menurut Prof. Fasli, Yarsi kini telah menunjukkan kemajuan signifikan, baik dari sisi infrastruktur maupun kualitas akademik. Kampus ini bahkan dinilai mampu bersaing secara fisik dengan perguruan tinggi terbaik di dunia.
Selain itu, Yarsi juga didukung fasilitas rumah sakit modern dengan kapasitas ratusan tempat tidur dan teknologi mutakhir, yang menjadi penopang utama pendidikan kedokteran dan pengembangan tenaga kesehatan.
“Ke depan, penguatan ekosistem pendidikan dan layanan kesehatan akan terus dilakukan, termasuk pengembangan pendidikan dokter spesialis yang sangat dibutuhkan di Indonesia,” tambahnya.
Dari sisi akademik, Yarsi telah mengantongi sejumlah akreditasi internasional. Hal ini menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan di kampus tersebut telah memenuhi standar global, sehingga lulusannya dinilai siap bersaing di tingkat internasional.
Tak hanya itu, sekitar 40 persen dosen di Yarsi telah bergelar doktor, melampaui rata-rata nasional. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) ini disebut sebagai investasi jangka panjang dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Dalam kesempatan yang sama, Pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Yarsi, Prof. Jurnalis Uddin, mengenang perjuangan awal pendirian institusi tersebut yang penuh keterbatasan.
Ia mengisahkan, pada masa awal berdiri, Yarsi belum memiliki gedung, lahan, maupun fasilitas sendiri, sehingga harus memanfaatkan sarana milik Universitas Indonesia.
“Semua dimulai dari keterbatasan. Tidak punya gedung, tidak punya alat, bahkan tenaga pun sangat terbatas. Tapi dengan tekad dan pertolongan Allah, semua bisa berjalan,” ungkap Prof. Jurnalis.
Menurutnya, semangat untuk menghadirkan pendidikan kedokteran berbasis nilai Islam menjadi salah satu alasan utama berdirinya Yarsi, di tengah dominasi institusi lain saat itu.
Seiring waktu, Yarsi terus berkembang hingga memiliki kampus sendiri serta berbagai fasilitas penunjang pendidikan yang modern.
Acara tasyakuran ini diharapkan menjadi penguat komitmen seluruh civitas akademika untuk melanjutkan visi pendiri, yakni menjadikan Yarsi sebagai universitas Islam unggulan yang mampu menjawab tantangan zaman.
Dengan capaian yang ada saat ini, Yarsi optimistis dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas jejaring internasional, serta mencetak lulusan yang kompeten dan berakhlak
Sumber:
Lihat

