FTI Gelar Seminar AI Hadirkan Prof James dari Afrika Selatan, Kupas Pendekatan CIAO

Generasi muda perlu dibekali pemahaman lebih dalam terkait dampak penggunaan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya dari sisi manfaat, tetapi juga risikonya.

“AI memang memberikan banyak peluang, tetapi tanpa pemahaman  tepat, ada potensi penurunan kualitas berpikir dan kemandirian belajar,” tutur  Dekan Fakultas Teknologi Informasi,Dr.Ummi Azizah Rachmawati,S..M.Ikom (Doktor Ummi), saat jadi pembicara Seminar Literasi Informasi Berbasis  AI bersama siswa dan guru SMAN 72 Jakarta, Senin, 6 April 2026 di Universitas Yarsi

Lebih dalam Doktor Ummi mengatakan, penggunaan AI kian masif di kalangan pelajar mulai memunculkan kekhawatiran baru terkait penurunan kemampuan berpikir kritis. Akademisi mengingatkan, ketergantungan berlebihan terhadap AI berpotensi menimbulkan apa yang disebut sebagai cognitive debt hingga penyerahan kognitif. Sangat tepat jika generasi muda perlu dibekali pemahaman lebih luas terkait dampak pemakaian AI,” seru Doktor Ummi.

Sementara Guru Besar Teknik dari Central University of Technology Afrika Selatan, Prof James Swart (Prof.James) mengungkapkan penggunaan AI tanpa keterlibatan aktif dapat menurunkan aktivitas saraf hingga 47 persen dan melemahkan keterikatan mental dalam proses belajar.

Ini bisa disebut fenomena cognitive surrender, yakni kecenderungan pengguna menelan begitu saja informasi dari AI meskipun belum tentu benar. Selain itu, adanya risiko cognitive debt, yaitu penurunan kemampuan berpikir kritis akibat ketergantungan jangka panjang terhadap AI.

Menurut Prof James, AI seharusnya tidak menggantikan proses berpikir manusia.  AI, menjadi alat bantu. Ia mendorong pendekatan penggunaan AI yang tetap menempatkan manusia sebagai aktor utama dalam proses belajar.

Salah satu pendekatan disosialisasikan adalah metode Chandra Interactive Analysis of Observations (CIAO), yakni memahami kriteria tugas, memanfaatkan AI untuk eksplorasi awal, kemudian menyusun jawaban dengan kata-kata sendiri sebelum menggunakan AI sebagai alat penyempurna.

Pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan penguatan kapasitas kognitif siswa.

Prof James mengutarakan, fenomena ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dalam merumuskan batasan etika penggunaan AI di lingkungan sekolah. Guru dituntut menyesuaikan metode pembelajaran dan evaluasi agar tetap mendorong orisinalitas serta daya pikir kritis siswa di tengah kemudahan teknologi.

Di sisi lain, literasi AI yang tidak hanya teknis tetapi juga etis menjadi kunci agar pemanfaatan teknologi tidak justru melemahkan kualitas pembelajaran (usman).