Mahasiswa disabilitas fisik agar sukses belajar butuh akses fisik berupa ruang kelas, toilet, laboratorium dan jalur bisa dijangkau. Kemudian teknologi bantu berupa komputer ( speech to text untuk ujian, khusus atau Learning management System yang aksesibel), kelas hybrid saat diperlukan. Lalu akses materi berupa digital diberikan lebih awal, merekam kuliah dan bantuan note-taker.
Direktur Terala Foundation, Tien Mulyanthi, SE., M.Sc., BKP (Ibu Tien) mengatakan itu saat jadi pembicara Pelatihan Dosen Strategi Pengajaran Inklusif Bagi Mahasiswa Disabilitas, Kamis, 23 Juli 2026 di Universitas Yarsi.
Selanjutnya, mahasiswa butuh partisipasi dan dukungan sosial seperti dilibatkan penuh dalam diskusi dan kerja kelompok, Fleksibilitas waktu berupa toleransi keterlambatan, waktu tambahan ujian dan kelonggaran tenggat saat kondisi kambuh.
Lebih jauh lagi, diajak dialog dan privasi. Seperti bicara langsung tentang kebutuhannya secara rahasia bukan diasumsikan. “ Itulah kiat sukses pengajaran mahasiswa disabilitas ” terang Ibu Tien
Mahasiswa disabilitas fisik tidak meminta keistimewaan.”Mereka meminta kesempatan setara untuk menunjukkan kemampuannya,” tegas Bu Tien
Ditambahkannya, akomodasi yang baik mengubah cara, bukan menurunkan standar. Dan hampir semuanya membuat pembelajaran lebih baik bagi seluruh mahasiswa.
Ibu Tien banyak sekali memaparkan mataeri menjernihkan peserta. Selain diatas disampaikan pula kiat sukses berupa strategi sebelum perkuliahan, dalam kelas, strategi tugas ,ujian dan penilaian.
Sependapat dengan Bu Tien, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Yarsi,Alabanyo Brebahama,M.Psi.,
Psikolog (Pak Banyo) menerangkan, agar mahasiswa disabilitas sukses belajar di perguruan tinggi (PT), seorang dosen harus juga mengetahui ragam mahasiswa disabilitas.

Undang-undang No.8 Tahun 2016 disabilitas dikelompokkan, disabilitas fisik, disabilitas sensoris ,disabilitas intelektual dan disabilitas mental
Menurut Pak Banyo, disabilitas fisik berupa keterbatasan fungsi gerak, yang mempengaruhi mobilitas dan aktivitas fisik Seperti cerebral palsi, polio, achondroplasia (orang cebol),cidera tulang belakang (spinal cord injury) dan amputasi.
Disabilitas sensoris yaitu keterbatasan fungsi penglihatan. Seperti penglihatan rendah ( low vision ) dan totally blind (tunanetra total ). Dan keterbatasan pendengaran berupa gangguan pada telinga luar, tengah atau dalam yang menghambat penerimaan suara
Sedangkan disabilitas intelektual seseorang punya intelektual skor intelligence quotient (IQ) tingkat kecerdasan dibawah 70, cirinya keterbatasan fungsi intelektual dan kemampuan adatif.
Kemudian lamban belajar seseorang punya intelektual skor intelligence quotient (IQ) tingkat kecerdasan dibawah 70-89 cirinya dapat belajar dengan bantuan dan strategi tepat, lebih lambat dengan teman sebayanya (memahami materi butuh waktu lama, mudah lupa dan kesulitan mengorgisasi informasi,
Disabilitas mental, berupa keterbatasan dalam fungsi pikir, emosi dan perilaku yang mempengaruhi partisipasi dalam kehidupan. Seperti gangguan perkembangan bahasa dan bicara, autism spectrum disorder (kesulitan komunikasi sosial, kontak mata, perilaku repetitive dan kebiasaan terbatas).
Lalu Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), Specific Learning Disorder (SLD). Sudah itu gangguan psikososial (depresi major berupa kesedihan mendalam,kehilangan minat, gangguan fungsi sehari-hari) dan gangguan bipolar
Seperti Bu Tien, Pak Banyo juga banyak memberikan penjernihan materi pada peserta.Diantaranya terkait Universal Design Learning (UDL) berupa desain pembelajaran inklusif, fleksibel dan bermakna untuk semua mahasiswa..
UDL merupakan kerangka kerja untuk merancang pembelajaran yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua mahasiswa dengan beragam kebutuhan , kemampuan dan cara belajar.
Alumnus Magister Psikologi Universitas Indonesia menegaskan, UDL punya 3 prinsip yakni pertama engagement (berikan beragam cara untuk keterlibatan ). Kedua representation ( berikan cara untuk representasi) dan ketiga action dan expression ( berikan beragam cara untuk aksi dan ekpresi ).
UDL bukan hanya untuk mahasiswa disabilitas , tetapi untuk semua mahasiswa. Ketika desain pembelajaran fleksibel, semua orang dapat belajar lebih baik.
“Desain untuk keberagaman sejak awal bukan perbaikan setelah ada hambatan,” ingat Pak Banyo.
Dalam pelatihan ini tampil pula sebagai pembicara Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof .Farida Kurniawati, Ph.D,Psikolog memaparkan paradigma pendidikan inklusif penerapan UDL di PT dan Sugiyo,M.Kom Lulusan Magister Teknik Informatika Universitas Pamulang dan Instruktur Komputer Yayasan Mitra juga tunanetra total, memaparkan pendidikan inklusif bagi mahasiswa tunanetra total.
Para pembicara hebat menebarkan ragam pencerahan kiat sukses pengajaran mahasiswa disabilitas bagi para dosen.(Usman)


