Kini terasa paling lega dan bahagia. Alhamdulillah semua perjuangan selama ini akhirnya terbayarkan. Tidur juga lebih nyenyak, karena sudah tidak kepikiran tugas atau ujian . Selera makan tidak terlalu berubah.. “Tetap doyan seperti biasa,” ujar Shafa Adinda Rizki Nurpratama (drg Shafa) dengan wajah tersenyum
Shafa merupakan dokter gigi dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Yarsi (FKGUY) meraih nilai tertinggi (IPK) program profesi dokter gigi. Sebelumnya drg Shafa juga peraih nilai tertinggi saat program Sarjana Kedokteran Gigi FKGUY.
Berbincang dengan drg Shafa sangat komunikatif , loyal menebar Langkah-langkah sukses dan penyampaiannya mudah dimengerti.
Menurut drg Shafa, untuk meraih nilai tertinggi perlu strategi yaitu belajar. Tentunya belajar harus fokus, di kelas mendengarkan penjelasan dosen. Jadi ketika di rumah hanya mengulang atau menambah bacaan saja.
Selain itu istirahat dan olahraga cukup. Karena saat kuliah, praktikum atau ujian, performa maksimal dan badan harus fit.” Paling penting setelah belajar, tidak lupa doa dan tawakkal ,” tutur drg kelahiran Madiun.
Lebih jauh, belajar saat meraih sarjana kedokteran gigi (S.KG) dan profesi kedokteran gigi sedikit kali bedanya, tapi tantangannya berubah. Untuk meraih S.KG, fokusnya lebih menyesuaikan diri dengan sistem kuliah dan mempelajari dasar-dasar ilmu kedokteran gigi. Sementara saat sudah lanjut ke jenjang pendidikan profesi dokter gigi (drg), tetap ada belajar teori tapi lebih fokus ke penerapan ilmu ke pasien langsung.
Drg Shafa mengatakan, tips agar belajar menjadi mudah adalah membaca atau mencari tahu dahulu kira-kira apa yang akan dipelajari sebelum perkuliahan
Tantangan belajar di kedokteran gigi banyak. Awal masuk kuliah lebih ke adaptasi dengan jadwal kuliah padat dan banyaknya tugas. Saat lanjut ke pendidikan profesi, lebih ke menemukan pasien yang cocok dengan syarat requirement dibutuhkan untuk menyelesaikan pendidikan
Tentu pelajaran di fakultas kedokteran gigi( FKG) tidak lepas dari kesulitan. Masing-masing ada porsi sulitnya.”Solusinya banyak diskusi dengan dosen hingga,” terang drg Shafa yang suka pelajaran forensik gigi
Dari situ sering dapat insight yang tak ada di buku. Karena kadang jawabannya langsung dari pengalaman dosen selama praktek jadi dokter gigi,” tambahnya
Belajar di FKG sangat perlu sekali mengatur waktu antara akademik dengan non akademik. Caranya menerapkan skala prioritas dan manajemen waktu yang baik.”Belajar dan mengerjakan tugas tidak bisa ditinggal ,setelah selesai baru pindah ke kegiatan lain,” cakapnya.
Kuliah di FKG itu memang berat. Selain banyak teori , banyak pula keterampilan klinis juga harus dikuasai. Kepada para junior jangan jadikan perkuliahan sebagai beban, lakukan semampu kita. “Jangan lupa berdoa agar diberi kemudahan,” ingat drg Shafa .
Sisi lain, setiap mahasiswa kedokteran gigi pasti punya cerita. drg Shafa menyatakan cerita paling dingat dari pasien muda saat ditambal gigi depannya. Sejak sekolah dasar pasien itu kalau senyum tidak percaya diri karena kondisi giginya, Tapi setelah dirawat jadi lebih percaya diri.
Drg Shafa menegaskan, jadi pekerjaan dokter gigi bukan cuma perbaiki gigi berlubang. “Tapi juga bisa memberi dampak besar buat rasa percaya diri dan kebahagiaan seseorang,” tutup drg Shafa(usman)


