Pratiwi Sudarmono dan Peduli Bakteri

Namanya kembali mengemuka saat Misi Artemis ke Bulan dijalankan pada awal April lalu. Pratiwi Pujilestari Sudarmono, sang empu nama tersebut, pun mengaku tak menyangka namanya akan muncul kembali.

”Saya sampai bilang, loh, kok muncul lagi? Lalu kami tertawa bersama,” tutur Pratiwi, ahli mikrobiologi yang pernah dicalonkan sebagai astronot pada era 1980-an, saat berkunjung ke ruang Redaksi Harian Kompas di Menara Kompas, Jakarta, Senin (11/5/2026).

Di usianya yang kini telah menginjak 73 tahun, Pratiwi masih aktif sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan juga Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi. Bahkan, saat berkunjung ke Redaksi Harian Kompas, Pratiwi hadir untuk mendampingi sejumlah mahasiswa Universitas Yarsi yang ingin mengetahui seluk-beluk pemberitaan.

Pratiwi mengungkapkan, misi manusia ke Bulan tak lepas dari mimpi untuk tinggal di luar angkasa. Masalahnya, menurut dia, manusia itu makhluk hidup. ”Pertanyaannya, apakah sel-sel itu bisa bertahan hidup di luar angkasa?” ucapnya.

Anggota staf bagian analis riset mengambil sampel dengan tes usap pada wajah untuk meneliti kandungan bakteri dan jamur di klinik Nusatic di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 14 Januari 2023. Pelayanan analisis ”microbiome” (mikroba baik) kulit di klinik ini dapat mengetahui kebutuhan kulit yang sesungguhnya dan memilih produk perawatan kulit sesuai kebutuhan dengan tepat.

Dia kemudian menyinggung bahwa kepunahan dinosaurus bukan semata-mata karena bencana alam seperti meteor. Akan tetapi, dinosaurus juga punah karena terinfeksi bakteri atau virus. ”Jadi, bukan hanya faktor alam semata,” ujarnya.

”Bayangkan jika kemarin teknologi kita belum semaju sekarang, pandemi Covid-19 bisa saja memusnahkan umat manusia,” ucapnya lagi.

Bahkan, Pratiwi mengingatkan agar kita tetap dapat menjaga keberagaman bakteri yang ada di Indonesia. Jangan sampai ada yang dibawa ke luar negeri. Sebab, menurut dia, ada saja modus yang dilakukan pihak luar untuk mengambil sampel bakteri di dalam negeri, seperti menggunakan sepatu tertentu sehingga ada tanah yang menempel.

”Dari tanah yang menempel itu, diambil untuk diperiksa (untuk kemudian diteliti bakteri yang ada di dalamnya),” ucapnya.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) membuat suplemen jus fermentasi jambu merah di Laboratorium Pusat Penelitian Kimia LIPI, Puspitek, Tangerang Selatan, Banten, 2 Juni 2020. Jus jambu merah yang difermentasi dengan simbiotik antara bakteri dan ragi (kultur ”scoby”) ini menghasilkan senyawa organik seperti asam asetat, laktat, butirat, dan asam hialurat yang dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh untuk pencegahan Covid-19.

Menurut Pratiwi, Indonesia memiliki bakteri dan mikrobiologi yang sangat beragam. Sebab, makhluk hidup itu lebih mudah berkembang di lingkungan lembab seperti Indonesia dan kurang berkembang luas di daerah yang kering atau tidak lembab.

”Kita punya kekayaan bakteri yang beragam. Di situ kita harus menjaga,” ucapnya.

Sumber:

Lihat