Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per Kamis 22 Januari 2026 kemarin. Keputusan ini berdasarkan Keputusan Presiden bernomor 14155 yang dirilis pada 20 Januari 2025.
Amerika Serikat setidaknya punya tiga hal besar dalam kesehatan global dan WHO, yang perlu diantisipasi oleh WHO dan juga negara kita.
Pertama adalah pendanaan ke WHO dan beberapa unit internasional lain seperti GF ATM, GAVI dll. Untuk ini maka WHO perlu (dan sudah) melakukan 2 hal. Ke satu adalah mencari sumber dana lain dan ke dua melakukan efisiensi tanpa mengurangi produktivitas, yang antara lain dilakukan dengan penyederhanaan organisasi, penggabungan beberapa Direktorat jadi satu dll. Untuk Indonesia maka tidak ada jalan lain untuk negara menyediakan anggaran untuk proyek2 kesehatan masyarakat yang tadinya dibiayai organisasi internasional yang dapat dana dari Amerika Serikat. Untuk ini maka APBN dan APBD perlu menjamin program kesehatan masyarakat tetap jadi prioritas penting negara.
Ke dua adalah analisa ilmiah dan penelitian kesehatan masyarakat yang memang banyak dilakukan Amerika Serikat. Badan seperti Center of Diseases Control and Prevention (CDC) dan juga National Institute of Health (NIH) banyak sekali menyajikan data-data global ber reputasi tinggi. Dengan keluarnya Amerika Serikat dari WHO maka sebenarnya kita tetap berharap agar kerjasama ilmiah dapat terus dijalankan. Cara lain adalah agar WHO berkolaborasi dengan badan-badan regional lain, seperti European CDC, African CDC dll. Untuk negara kita maka amat diharapkan agar pemerintah memberi porsi penting bagi riset kesehatan masyarakat, apalagi Presiden baru mencanangkan penambahan anggaran riset 4 T yang mudah2an ada juga yang untuk kesehatan anak bangsa.
Ke tiga, rakyat Amerika hampir 350 juta dan memiliki banyak industri global. Artinya akan banyak kontak antara orang dan juga perusahaan Amerika dengan negara-negara lain, yang selain punya dampak ekonomi, sosial, industri, politik maka juga tentang kesehatan masyarakat. Dengan keluarnya Amerika Serikat dari WHO maka kontak kesehatan antara Amerika Serikat dengan negara-negara lain (termasuk Indonesia) tentu jadinya akan bersifat bilateral, atau setidaknya Amerika dengan regional (ASEAN) misalnya, yang tentu perlu pengaturan yang baik.
Prof Tjandra Yoga Aditama
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University


