Jakarta (ANTARA) – Rektor Universitas YARSI Fasli Jalal menilai ketertarikan anak pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dapat dibangun sejak dini melalui peran keluarga, dengan pendekatan sederhana yang dekat dengan aktivitas sehari-hari.
“Kita harus menciptakan kebutuhan dari awal, di keluarga,” kata Fasli Jalal kepada wartawan usai menghadiri kuliah umum yang bertajuk “STEMpowerment for All: Breaking Barriers, Building Futures” di Universitas YARSI, Jakarta, Jumat.
Ia menyampaikan bahwa berbagai aktivitas sederhana dapat menjadi pintu masuk pembelajaran sains bagi anak, termasuk melalui permainan dan interaksi dengan lingkungan sekitar. Ia mencontohkan permainan Lego atau penyusunan balok berwarna-warni dapat menjadi sarana bagi orang tua memperkenalkan STEM pada anaknya.
Fasli menyoroti masih adanya anggapan dari orang tua dan guru bahwa bidang sains kerap dianggap sulit dan tidak jelas arah karirnya, padahal banyak penemuan besar lahir dari proses bertahap.
Ia mendorong adanya dukungan kebijakan yang lebih luas untuk memperkuat ekosistem STEM, termasuk melalui penyediaan beasiswa dan contoh nyata jalur karir.
“Kita harus membina itu sejak dari awal, memfasilitasi kebijakan, membuka biasiswa-biasiswa, memberikan contoh-contoh yang real, bahwa karirnya itu bisa ke mana-mana,” ujarnya.
Fasli mencontohkan praktik di lingkungan kampus yang dipimpinnya dengan keterwakilan perempuan di bidang STEM yang sudah terlihat dominan di sejumlah fakultas dan posisi pimpinan.
“Di kedokteran, di engineering, kita dominasi perempuan. Di biomedical, kita juga terbanyak perempuan. Profesor kita juga banyak perempuan. Waktu saya masuk jadi rektor di sini, dari 6 dekan, 5 di antaranya perempuan,” katanya.
Ia menyebut capaian tersebut menjadi bukti bahwa peningkatan partisipasi perempuan di STEM bukan sekadar wacana, melainkan dapat diwujudkan melalui kebijakan dan budaya institusi yang mendukung.
Sumber:
Lihat

