Paparkan 5 Hasil Penelitian, Kamal, Dokter Bedah Lulus Cumlaude Jadi Doktor

Raih doktor butuh biaya dan tenaga dikeluarkan tidak sedikit. Namun bagi saya, ilmu bukan soal balik modal. Gelar doktor adalah amanah. Terpenting bagaimana ilmu bisa diimplementasikan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

dr.Kamal Anas,Sp.B, Finacs (dokter Kamal) menyatakan itu saat orasi doktornya , Senin di Universitas Yarsi Jakarta.

Dokter Kamal menegaskan, sebagai dokter spesialis bedah kesejahteraan dan ekonomi  lebih dari cukup. Menempuh pendidikan Doktor bukan ngejar materi, tetapi saya merasa ilmu harus terus berkembang. Melanjutkan S3 bentuk tanggung jawab untuk tidak hanya mengobati, tetapi juga memberi kontribusi melalui penelitian dan pendidikan.

Dokter Kamal merupakan merupakan dokter spesialis bedah ,lulus cum laude pada program doktor Biomedis, Hari ini resmi bergelar Doktor.

Menurut Doktor Kamal , biomedis berada di jantung perkembangan kedokteran

modern. Di bidang bedah, pemahaman biomolekuler sangat penting untuk mengembangkan Teknik penyembuhan yang lebih efektif dan inovatif. Jadi, biomedis melengkapi praktik klinis dengan dasar ilmiah yang kuat.

Dalam orasi ilmiahnya ,Doktor Kamal banyak memapar hasil penelitian penting dan menarik. Lima diantaranya, pertama menemukan mekanisme kerusakan kulit akibat asam format secara histopatologi dan biomolekuler.kedua memberikan dasar ilmiah untuk tata laksana medis lebih tepat pada kasus luka bakar kimia. Ketiga menjadi referensi akademik bagi penelitian lanjutan di bidang toksikologi dan kedokteran darurat.

Selanjutnya memberi masukan praktis bagi tenaga medis dalam menangani kasus serupa di lapangan. Kelima menjadi pengingat pentingnya pencegahan dan edukasi masyarakat terkait bahaya bahan kimia.

Dari hasil penelitiannya ditemukan kerusakan kulit akibat asam format tidak hanya terjadi karena kontak kimia langsung, tetapi juga dipicu oleh aktivasi jalur inflamasi dan stres oksidatif, yang melibatkan biomarker seperti HMGB1, NF-kB, dan isoprostane. Temuan ini memberi gambaran lebih jelas tentang mekanisme cedera kimia.

Tentunya saat penelitian ada kendala. Utamanya proses uji coba panjang, keterbatasan fasilitas, serta penyesuaian protokol penelitian dengan standar etika hewan coba. Total waktu yang dibutuhkan sekitar 3 tahun dari awal hingga selesai.

Doktor Kamal mengungkapkan,cita-cita terwujud tidak lepas dari dukungan keluarga. “Anak-anak juga saya libatkan dalam proses, supaya mereka merasa bagian dari perjalanan ini, bukan hanya penonton,” ujar Doktor Kamal

Selain itu mengucapkan terima kasih kepada Ketua Pembina Yayasan Yarsi,Prof.dr. Jurnalis Uddin, PAK., Ketua Pengurus Yayasan Yarsi,dr. Shanti Jurnalis, Sp.A., M.Kes., Rektor Universitas Yarsi,Prof.dr. Fasli Jalal, Ph.D, Direktur Pascasarjana Universitas Yarsi, Prof.Dr.dr.Tjandra Yoga Aditama, SpP(K)., MARS (Prof Tjandra) dan semua pihak telah membantu.

Alhamdulillah, setelah sidang doktor selesai, beban pikiran jauh lebih ringan. Tidur jadi lebih nyenyak dan selera makan kembali normal. “Proses S3 itu penuh tekanan, jadi setelah selesai ada rasa lega luar biasa,” tutup Doktor Kamal.

Menurut Rektor Universitas Yarsi Program Doktoral di Universitas Yarsi memang relatif muda. Baru tiga tahun lalu dibuka di Sekolah Pascasarjana, setelah sebelumnya hanya memiliki tiga program magister.

Kini dalam perjalanannya, Pascasarjana Yarsi sudah berkembang menjadi lima program studi, termasuk jenjang doktoral.

Keberhasilan ini bukan hanya pencapaian pribadi Doktor Kamal, ”Tapi juga menandai langkah besar Universitas Yarsi berkontribusi pada pendidikan tinggi dan riset kesehatan di Tanah Air,” tutup Prof dr Fasli Jalal  (Usman)